Petani Kedurang Keluhkan Pupuk Langka dan Jaringan Irigasi Jebol

Bengkulu Selatan Desa Ekonomi & Bisnis Featured Hukum & Kriminal Politik Sosial & Budaya

RBO, BENGKULU – Kunjungi Renah Kedurang calon DPD RI nomor 24 Barlian mendapatkan masukan yang cukup mengejutkan. Petani di Desa Lawang Agung Kecamatan Kedurang yang sedang bertanam jagung mengeluhkan langka nya pupuk. Sebab para petani saat ini sangat tergantung dengan ketersediaan pupuk dalam becocok tanam padi dan palawija.

“Kami sebagai petani ini tidak banyak permintaan kepada pemerintah, Cuma minta harga jual tanaman pertanian seperti jagung ini stabil, dan pupuk tidak sulit didapatkan, kami minta pasokan pupuk agar lancar,” kata Petani Jagung Ibu Dewi.

Padahal selain bertanam jagung petani juga menanam padi sawah yang kesemuanya itu sangat tergantung dengan pupuk dan harga jual. “ Petani sawah dan petani jagung sebenarnya sudah mandiri dan tidak banyak menuntut kepada pemerintah, pemerintah sudah selayaknya cukup menjaga harga jual produk pertanian menjadi stabil dan menguntungkan petani,” sampai dia.

Sementara itu petani di Desa Sukarami kecamatan Air Nipis, Nyonya Kintri mengungkapkan persoalan yang dihadapi para petani di daerahnya adalah persoalan irigasi yang bersumber dari Air Bengkenang yang tidak mencukupi, karena telah dibagun banyak kolam air deras secara permanen (beton) oleh orang-orang kaya yang tidak dibiarkan oleh pemerintah. “Kami harapkan pemerintah turun tangan untuk mengatur masalah ini agar kami bisa kebagian air untuk kebutuhan persawahan petani seperti kami ini,” kata dia.

Selain kolam yang tidak teratur, dan air tidak merata menyembabkan musim tanam petani padi sawah yang tidak serentak. Sehingga ditakutkan adanya peningkatan risiko hama dan penyakit tanaman lainnya. “Sebagian petani beralih ketanaman lainnya sepeti jagung dan tanaman palawija lainnya, timun, pare, terung, kacang panjang dan lain-lain,” ujarnya.

Mendapatkan masukan dari para petani mengenai keluhan-keluhan tersebut, Calon DPD RI nomor 24, Barlian mengatakan kepada pemerintah daerah untuk mengembalikan fungsi sesuai dengan peruntukan untuk pengembangan padi sawah. “Karena beras Seginim sangat terkenal, jadi sangat disayangkan kalau tidak memaksimalkan potensi yang ada,” Singkat dia. (hcr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *