Jejak Soekarno di Tanah Mukomuko, Penghujung Masa Pengasingan

ADO-ADO AJO Featured Mukomuko Pemda Provinsi Politik Profil

Kabupaten paling utara di Provinsi Bengkulu, yakni Kabupaten Mukomuko, menjadi akhir perjalanan Sukarno dalam pengasingannya di Bengkulu. Goresan sejarah itu tercatat dalam buku biografi Bung Karno yang ditulis oleh wartawan wanita asal Amerika Serikat, Cindy Adams, berjudul; “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”.

Bagaimana kisah mengenai perjalanan Bapak Proklamator sampai ke “Kapuang Sati Ratau Batuah” yang dikutip dari buku dan narasumber lain? Berikut liputannya.

Oleh: Seno AM – Mukomuko

Segala sesuatu yang berkaitan dengan Ir. Sukarno selalu menarik untuk dikupas. Hal itu tidak lepas dari peran besarnya dalam perjuangkan kemerdekaan Indonesia. Apa saja mengenai Sukarno akan menjadi catatan sejarah yang tidak terpisahkan dari bangsa ini.

Sebelum membahas tentang Putra Sang Fajar (Julukan Sukarno), penulis terlebih dahulu ingin menggambarkan buku yang berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang menjadi rujukan penulis merangkai tulisan ini.

Buku tersebut ditulis oleh Cindy Adam, wartawan wanita Amerika Serikat. Sebelum ditulis, Cindy Adam mewawancarai langsung Bung Karno. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1965 oleh The Bobbs-Merrill, Inc, New York. Versi pertama buku ini berbahasa Inggris. Kemudian diterjemahkan keberbagai bahasa lain. Termasuk versi bahasa Indonesia.

Dalam versi bahasa Indonesia, buku ini beberapa kali mengalami revisi. Lantaran dibeberapa bagian, pihak keluarga melalui Yayasan Bung Karno meyakini beberapa pernyataan yang tertulis bukan dari ucapan Sukarno. Setelah beberapa kali direvisi, buku ini juga beberapa kali dicetak. Dan buku yang penulis baca ini, diterbitkan oleh Yayasan Bung Karno tahun 2007. Buku ini pula menjadi rujukan utama dari setiap penulisan mengenai Sukarno.

Soekarno ke Bengkulu
Seperti yang sudah banyak diketahui, dalam masa perjuangan kemerdekaan, tokoh-tokoh bangsa banyak yang dijeblokskan ke penjara dan diasingkan, termasuk Sukarno. Ini dilakukan Belanda karena takut, si “Singa Podium” dkk mampu membangkitkan keinginan rakyat Indonesia untuk merdeka. Dengan alasan itu mereka (tokoh bangsa) dijauhkan dari rakyatnya.

Bengkulu menjadi tempat pengasingan Bung Karno setelah Flores. Dalam buku tersebut, Bung Karno beserta keluarganya diberangkat Februari 1938 dari Flores menuju Bengkulu. Di Bengkulu, Sukarno bersama Inggit (Istri Kedua) menjalani kehidupan jauh dari hiruk pikuk politik di tanah jajahan Belanda ini. Dalam kurun waktu lebih kurang empat tahun di Bengkulu, banyak kisah yang ditinggalkan Bung Karno untuk Bengkulu. Termasuk kisah cintanya kepada putri Bengkulu Fatmawati.

Soekarno ke Mukomuko
Februari 1942, kekuasaan Belanda atas Nusantara digantikan oleh Jepang. Dalam buku yang ditulis Cindy Adam itu, masuknya tentara Jepang, sebenarnya membuat tentara Belanda lari terbirit-birit. Akan tetapi, Belanda masih bertahan karena ada Sukarno. Belanda takut Bung Karno jatuh ke tangan Jepang. Jika itu terjadi, bisa menjadi ancaman bagi Belanda. Jepang bisa saja memanfaatkan Sukarno untuk mengobarkan permusuhan terhadap Negeri Belanda dan Sekutunya dengan segala kemampuan dan ketokohan yang dimiliki oleh Bapak Proklamator ini.

Mendengar pasukan Jepang mulai bergerak mengarah Bengkulu dari arah Lubuk Linggau, Belanda langsung mengatur siasat melarikan Bung Karno. Dalam buku, pada pukul sebelas malam, Sukarno bersama Inggit, Sukarti (keponakan) dan Riwu (Pembantu Sukarno dari Flores) dibawa oleh empat orang Polisi Belanda menggunakan Pick Up keluar Bengkulu.
“Untuk menghilangkan jejak, polisi pada awalnya mengambil jalan ke arah selatan. Setelah jelas tidak ada orang yang mengikuti kami, mereka memutar haluan ke Utara menuju Muko-Muko, sekitar 240 kilometer dari Bengkulu, dimana kami akan bermalam. Ada tiga belas sungai lebar berlumpur dan banyak buaya, yang harus diseberangi. Dan tidak ada jembatan diatas sungai itu. Kami menyeberanginya dengan rakit dan perahu buatan penduduk. Pukul lima petang hari berikutnya, rombongan yang kelelahan itu sampai di Muko-Muko,” tertulis dalam buku Bab 17; Pelarian, halaman 181.

Tak banyak kisah, tak banyak pula cerita yang ditinggal Sukarno di tanah Mukomuko. Bung Karno dan keluarganya tinggal tidak genap 12 jam di daerah ini. Tiba dari Bengkulu pukul lima sore dan harus melanjutkan perjalanan lagi pada pukul tiga dini hari dengan tujuan Padang.

Kendati demikian, di Kapuang Sati Ratau Batuah, Bapak Proklamator pernah bermalam walau hanya semalam. Langit Mukomuko pernah jadi pelindung Putra Sang Fajar, walau tak sampai 12 jam. Nama Mukomuko tersimpan baik di memori Bung Karno. Setelah 22 tahun ia bermalam di Mukomuko (1942), ia ceritakan pristiwa ini kepada Cindy Adam (1965). Begitulah Sukarno, Pemimpin yang mencintai rakyat. Walaupun di Mukomuko hanya sesaat, ia punya cara agar kita ingat. Ingat, kalau Sukarno pernah ke Mukomuko.

Samad Sang Pengendali Gerobak Sapi

Cerita, bahwa Bung Karno pernah ke Mukomuko, di masa sebelum ia menjadi Presiden RI, diperkuat dengan cerita yang disampaikan secara turun menurun oleh masyarakat setempat. Menurut cerita tersebut, dari Mukomuko, Sukarno dan keluarganya diantar menggunakan gerobak sapi (Pedati) menuju Padang.

Cerita turun menurun ini, selaras dengan isi buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Di buku juga tertulis kalau, Sukarno, Inggit, Sukarti dan Riwu melanjutkan perjalanan dari Mukomuko menuju Padang menggunakan gerobak sapi. Dikawal oleh empat orang Polisi.
Masyarakat Mukomuko meyakini, gerobak sapi yang dipakai untuk mengantar Sukarno tersebut adalah milik Samad. Dan Samad sendiri yang mengendalikannya. Kala itu, Samad merupakan Ughang Tuo Kaum Enam Dihili. Informasi ini penulis dapat dari Amiruddin (53), tokoh masyarakat Mukomuko yang cukup mencintai sejarah.

Dikisahkan Amiruddin, di rumah Samad pula, Sukarno dan keluarga bermalam. Rumah Samad yang dimaksud dalam cerita beralamat di Pasar Gedang, atau sekarang Kelurahan Pasar Mukomuko.

“Cerita ini kami dapat secara turun menurun. Almarhum Samad bawak gerobak ngantar Pak Karno sampai Tapan. Keturunan Pak Samad itu, namanya Darwis, biasanya dipanggil Wih Bengke,” demikian Amiruddin.

Sebenarnya, penulis sudah lama ingin mempublis Jejak Sukarno di Tanah Mukomuko ini. Tepatnya 2017 lalu, pada saat kisruh pembangunan patung Jendral Sudirman di Bundaran atau Lapangan Merdeka Kelurahan Pasar Mukomuko Kota Mukomuko yang menuai masyarakat. Tidak ada maksud untuk mengungkit-ungkit permasalahan. Akan tetapi, kala itu, penulis ragu untuk menulis ini karena takut memperkeruh suasana. Beruntungnya, tertundanya tulisan ini, penulis bisa mendapat informasi lain dari masyarakat. Yaitu Amiruddin terkait pristiwa sejarah Sukarno tersebut.

Menurut Penulis, jikapun Pemerintah ingin membangun patung tokoh atau pahlawan nasional di daerah ini, sebagai pemersatu masyarakat yang sudah majemuk, Sukarno lah yang paling “berhak”. Bukan saja karena ia Bapak Proklamator, Presiden Pertama Indonesia atau Istrinya orang Bengkulu, akan tetapi Bung Karno memiliki garis history dengan Kapuang Sati Ratau Batuah.

Persoalan patung sudah tuntas. Sudah menjadi ciri masyarakat daerah ini menyelesaikan masalah dengan cara Bermukomuko (Musyawarah). Antara Pemerintah, Tokoh Adat dan Masyarakat sudah bersepakat, di bundaran akan dibangun patung sosok yang mencerminkan perjuangan masyarakat Mukomuko, sekaligus simbol pemersatu.

Tulisan ini pun hanya dimaksudkan sebagai pemberi kabar kepada pembaca setia Radar Bengkulu dan radarbengkuluonline.com, kalau Sukarno, Sang Proklamator, di penghujung masa pengasingannya, pernah ke Kapuang Sati Ratau Batuah. Kabupaten paling utara di Provinsi Bengkulu, Kabupaten Mukomuko. Demikian.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *