Akibat Asap Kebakaran Lahan, Warga Enggano Mulai Terjangkit Ispa

Bengkulu Utara Desa Ekonomi & Bisnis Featured Hukum & Kriminal Lingkungan

Butuh Obat-obatan, Masker dan Air Bersih

RBO, ARGA MAKMUR – Sebanyak 35 warga Trans Malakoni saat ini mulai terjangkit penyakit infeksi saluran pernapasan akut atau Ispa yang diduga disebabkan terlalu banyak menghirup asap kebakaran yang terjadi dilahan Trans Malakoni hingga saat ini, Rabu (18/9).

Plt Kadis Kesehatan BU, Samsul Arif menyebutkan terdeteksinya warga yang terjangkit Infeksi saluran pernapasan ini setelah pihak Puskesmas membuka Posko Pelayanan Kesehatan di Enggano, sehingga menanggapi temuan tersebut pihak Pemkab BU akan mengirimkan bantuan berupa masker sebanyak 1000 buah dan tambahan pasokan obat ke Pulau Enggano.

Kades Malakoni, Tedi Sunardi menyebutkan kebakaran lahan terus meluas disebabkan angin kencang yang terjadi di Pulau Enggano saat ini dan mengakui warganya mulai mengeluhkan tebalnya asap yang mengganggu pernapasan dan membutuhkan masker serta air mineral disebabkan ketersediaan air bersih saat ini mulai menipis. “Kebakaran lahan hingga saat ini terus meluas disebabkan angin kencang yang terjadi di Pulau Enggano saat ini, warga juga mulai mengeluhkan tebalnya asap yang mengganggu pernapasan dan kami membutuhkan masker dan air mineral,” Ungkap Tedi.

Ditambahkan Tedi sembari menunggu personil gabungan pemadam kebakaran yang saat ini dalam perjalanan, masyarakat bersama TNI-Polri masih melakukan upaya pemadaman api dengan alat seadanya yang saat ini, api mulai merambah mendekati SMA Enggano dan mendekati jalan lintas menuju Pelabuhan Kahyapu. “Sembari menunggu personil gabungan dari Pemadam Kebakaran yang saat ini dalam perjalanan, kami masyarakat bersama TNI-Polri masih melakukan upaya pemadaman dengan alat seadanya mengingat api sudah mendelati SMA Enggano dam jalan lintas menuju Pelabuhan Kahyapu,” singkat dia.

Sementara itu, dilansir dari antaranews.com Bengkulu, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu mencatat kurun waktu Agustus hingga pertengahan September 2019 terdapat 117 titik panas yang tersebar di berbagai daerah di Provinsi Bengkulu. Data ini diperoleh dari pantauan berbagai satelit oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau Lapan.

Kepala DLHK Provinsi Bengkulu, Sorjum Ahyan mengatakan, angka titik panas di Provinsi Bengkulu pada pertengahan September ini mengalami peningkatan bila dibandingkan pada Agustus. Pada Agustus terdapat 52 titik panas sedangkan hingga 15 September sudah terdapat 65 titik panas. Sedangkan indeks kualitas udara di Provinsi Bengkulu masih dalam kategori baik. Namun diakuinya beberapa hari terakhir ini memang terjadi peningkatan kadar CO2.

Hal ini terjadi bukan karena efek kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Bengkulu namun karena pengaruh kiriman asap dari provinsi tetangga. Titik panas di Bengkulu ini disebabkan kebakaran lahan perkebunan masyarakat dan kawasan hutan. “Peningkatan kadar CO2 salah satu penyebabnya karena kebakaran lahan. Bisa jadi ini karena kiriman dari daerah-daerah sekitar kita. Tapi masih dalam kategori belum membahayakan,” kata Sorjum di Bengkulu, Rabu (18/9).

Sebanyak 117 titik panas yang terpantau pada Agustus hingga 15 September paling banyak terdapat di Kabupaten Rejang Lebong yakni 24 titik panas yang kebanyakan terdapat di Kecamatan Padang Ulak Tanding. Disusul Kabupaten Kaur sebanyak 22 titik panas yang tersebar di Kecamatan Kinal, Kecamatan Nasal dan Kecamatan Kaur Utara.

Berikutnya Kabupaten Bengkulu Utara sebanyak 20 titik panas yang kebanyakan terdapat di Kecamatan Ketahun dan Kecamatan Enggano. Kabupaten Bengkulu Tengah yakni 15 titik panas yang kebanyakan terdapat di Kecamatan Pondok Kelapa. Kabupaten Mukomuko sebanyak 11 titik panas yang kebanyakan terdapat di Kecamatan Mukomuko Selatan.

Titik panas juga ditemukan di Kabupaten Seluma dan Kabupaten Bengkulu Selatan yakni sama-sama terdapat 9 titik panas. Kabupaten Lebong sebanyak 5 titik panas dan Kabupaten Kepahiang sebanyak 2 titik panas.

“Kebakaran yang relatif cukup besar itu seperti di Enggano dengan luas lahan yang terbakar diatas 30 hektar dan di Bukit Kandis di Bengkulu Tengah. Namun daerah yang lain lahan yang terbakar tidak terlalu luas sehingga cepat ditangani,” kata Sorjum.

Sorjum menambahkan, pihaknya mengkhawatirkan kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Bengkulu ini terus meluas. Terlebih musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung cukup panjang. Akan tetapi, kata Sorjum, pihak terkait telah diterjunkan ke lapangan untuk memadamkan api. Temasuk beberapa satuan tugas bersama telah diterjunkan ke Pulau Enggano untuk membantu pemadaman api disana.

Sorjum mengimbau seluruh masyarakat di Provinsi Bengkulu terkhusus para petani untuk lebih berhati-hati saat membersihkan lahan pertaniannya. Termasuk perusahaan perkebunan untuk tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau ini. “Bulan September ini mengalami peningkatan dan ini dikhawatirkan akan terus meningkat bila tidak dilakukan sosialisasi agar masyarakat tidak membakar lahan,” Demikian Sorjum. (bri/ant)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *