Penyandang Disabilitas Dapat Edukasi dalam Menulis

Featured Pemda Provinsi PEMERINTAHAN Pendidikan Politik

RBO, BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu bekerjasama dengan Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang Disabilitas (PIK-PPD), memberikan edukasi bagi penyandang disabilitas sebagai rumah belajar bersama. Apalagi, mimpi besar dari pelatihan ini, penyandang disabilitas dapat memiliki website khusus yang mereka kelola sendiri nantinya.

Materi pembelajaran yang diberikan, seperti belajar menulis, fotografi, vidiografi dan menggambar. Dari anggota penyandang disabilitas yang mengikuti kegiatan tersebut, didominasi oleh tuna rungu dan daksa. “Dipertemuan keenam setiap hari Jumat pukul 13.30 WIB, masih belajar menulis. Karena untuk kelompok tuna rungu dan daksa, harus mencari metode pembelajaran yang cocok bagi mereka untuk cepat dipahami. Intinya tidak semudah yang dibayangkan,” ujar Ketua AJI Bengkulu, Harry Siswoyo pada radarbengkuluonline.com, kemarin.

Diungkapnya, manusia yang diberi kesempurnaan oleh Yang Maha Kuasa masih kesulitan dalam menulis, apalagi manusia yang berkebutuhan khusus. Maka dari itu, pihaknya terus berusaha dalam memberikan pelajaran materi menulis dengan maksimal. “Untuk tuna rungu, sebenarnya mereka tidak mengenal teks. Tapi lebih pada bahasa isyarat. Mereka bisa menulis dan membaca, namun hanya satu sampai tiga kata saja. Kalau merangkai kata tidak bisa.  Untuk itu, prosesnya butuh kesabaran yang ekstra,” terangnya.

Tahap pertama dalam mengajarkan menulis, dijelaskan Harry, mereka harus menemukan ide terlebih dahulu. Setelah menemukan ide, minimal sudah paham dalam menyusun kerangka ide, barulah disusun menjadi paragraf. Sedangkan saat ditanya target pelatihan tersebut, dia tidak bisa menargetkan sampai kapan pelatihan itu akan terus digelar.  Intinya, sampai mereka tahap mampu. “Kami berharap pelatihan ini, dapat menghasilkan mimpi besarnya, akan ada satu website khusus dikelola penyandang disabilitas.  Jadi, mereka yang menulis, mencari bahan berita layaknya seorang wartawan,” jelasnya.

Menurutnya, penyandang disabilitas sangat bisa menjadi seorang jurnalis/wartawan. Tinggal melihat secara teknisnya seperti apa, untuk wawancara dengan narasumber.  “Mereka bisa melakukan wawancara dengan tulisan. Jadi, narasumber bisa menjawab apa yang ditanya melalui tulisan. Intinya tidak ada hambatan apapun,” katanya.

Sementara itu, salah seorang penyandang disabilitas yang mengikuti pelatihan tersebut, mengaku sangat senang bisa belajar disini. Apalagi mendapatkan teman baru. “Banyak pengalaman baru yang kami dapatkan selama belajar disini,”  kata Rita Dwi Priyani. (ach)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *