Warga Keberatan, Gas LPG 3 Kg Dijual di Atas HET

Ekonomi & Bisnis Featured

RBO  >>>   BENGKULU  >>>   Saat ini banyaknya laporan terjadi kelangkaan terhadap tabung gas LPG yang berukuran 3 kilogram. Seharusnya gas melon ini diberikan untuk masyarakat yang tidak mampu, namun masih saja diedarkan bebas untuk masyarakat umum. Menariknya lagi banyak warung yang menjual gas ini di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan.

Terkait hal ini Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bengkulu, Dewi Dharma menjelaskan, kelangkaan gas LPG diduga ada permainan pangkalan dengan pengecer. “Pangkalan sengaja menjual langsung ke pengecer dengan menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET),  sehingga masyarakat merasa keberatan karena harga dieceran sudah di atas Rp 20 ribu.  Bahkan lebih. Padahal harga di pangkalan hanya Rp 15.300,” kata Dewi Dharma.

Menanggapi pengaduan dari masyarakat dengan adanya isu kelangkaan LPG 3 kilogram Disperindag mengimbau pangkalan ataupun pengecer jangan nakal. Selain itu Disperindag juga melakukan Operasi Pasar (OP) di 9 Kecamatan guna mengatasi terjadinya kelangkaan LPG.

“Kami akan menindaklanjuti dengan melakukan OP internal tanpa jadwal secara dadakan untuk melihat keadaan sebenarnya,” katanya.

Disperindag sudah melakukan pengawasan penyaluran tabung LPG 3Kg bersubsidi mengenai peruntukannya sesuai UU Nomor 26 Tahun 2009 yaitu untuk masyarakat miskin, Usaha Mikro Kecil dan Nelayan Kecil.  “Kalau ada penemuan seperti itu, maka yang berhak memberikan sanksi hukum adalah Tim Indagsi Polda dan jajaran. Sedangkan Perindag hanya mengawasi dan tidak boleh menindak.  Walaupun tidak bisa memberi sanksi, tapi Disperindag bisa memberikan rekomendasi ke pihak agen untuk menutup pangkalan nakal yang ditemukan oleh tim lintas Sektor yang di Koordinatori Disperindag,” jelas Dewi.

Selain itu, Disperindag bisa mencabut izin pangkalan yang nakal karena Disperindag adalah perpanjangan tangan Pemkot Bengkulu yang bersinergi dengan Pertamina untuk membantu masyarakat miskin menengah ke bawah mendapatkan hak mereka.

Terpisah, dari hasil wawancara langsung, seorang warga Wiwin (34) warga Kelurahan Kebun Tebeng, Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu mengatakan, selama kurang lebih 1 bulan dirinya kesulitan untuk mendapatkan gas bersubsidi tersebut. Hanya saja di beberapa warung menjual eceran bahkan lebih tinggi dari harga yang sudah ditetapkan.
“Sudah langka, walaupun ada itupun hanya beberapa tempat yang ada. Harganya pun saya beli Rp 25 ribu, tapi lewat pengecer,” pungkasnya Jumat (18/10) kemarin. (Bro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *