Cagar Budaya Bengkulu Segera Diteliti

Featured Sosial & Budaya

RBO  >>>   BENGKULU  >>>   Generasi Pesona Indonesia (Genpi) menggelar Dialog Interaktif dengan tema ‘Cagar Budaya dan Pariwisata untuk Kesejahteraan Masyarakat’ di Aula Lantai 4, Kampus I Universitas Dehasen (Unived) Bengkulu. Pihaknya, juga turut mengundang, Pemerintah Provinsi Bengkulu (Pemprov) yang diwakili Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Bengkulu, Rektor Unived, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi dan Kepala Balai Arkeologi Sumatera Selatan, Senin (28/10).

Ketua Umum Genpi Bengkulu, Abdul Kahfi menyebutkan, BPCB Jambi, Balai Arkeologi Sumatera Selatan dan Genpi Bengkulu, akan melakukan penelitian terhadap cagar budaya yang ada di Provinsi Bengkulu. Menurutnya, ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bersama dengan pemerintah terkait, supaya pelestarian cagar budaya dan pariwisata menjadi salah satu daya tarik wisatawan datang ke Bumi Rafflesia.
“Di Genpi banyak sekali komunitas. Salah satunya, komunitas selam yang kami gunakan untuk menyelam di bawah laut, supaya dapat menggali potensi bawah laut,” ujar Abdul, pada RADAR BENGKULU, kemarin.

Diungkapnya, jika di Pulau Tikus telah ditemukan beberapa yang diduga cagar budaya. Seperti, guci dan lainnya.

Saat ini, penemuan tersebut sedang dilakukan inventarisasi dan penelitian oleh tim arkeologi dari Sumatera Selatan. “Di Pulau Tikus telah ditemukan delapan jangkar yang tertata rapi yang belum diketahui berasal darimana. Untuk itu, kami sedang berupaya mencari tau jangkar tersebut,” ungkapnya.

Dia juga menerangkan, bukan hanya jangkar yang berada di Pulau Tikus, tapi di Pulau Enggano juga ada. Oleh karena itu, akan dilakukan penelitian oleh BPCB Jambi dan Balai Arkeologi Sumatera Selatan dalam waktu dekat.
Pihaknya bulan depan akan melakukan survei pada bulan November di Pulau Enggano selama 10 hari untuk melakukan penelitian tentang cagar budaya di daerah tersebut.

Sementara itu, Rektor Unived Bengkulu, Prof. Dr. agr. Ir. H. Johan Setianto mengatakan, sangat menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pelestarian cagar budaya dan pariwisata, harus dinikmati oleh seluruh masyarakat. Jangan hanya kepentingan terkait saja. “Ada tiga aspek yang perlu dilihat. Pertama, pelestarian, supaya mahasiswa dapat memahami apa itu pelestarian,” ujar Johan Setianto pada RADAR BENGKULU, kemarin.

Kedua, pengembangan. Maksudnya disini, pengembangan fasilitas yang dapat mendukung kegiatan cagar budaya dan pariwisata. Ketiga, pemanfaatan. Jadi, manfaatnya dimaksimalkan sebaik mungkin. (ach)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *