Musim Kemarau Mundur Dua Dasa Rian

Featured Lingkungan

Asap Bengkulu Bukan Dari Karhutla

RBO, BENGKULU – Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu mencatat, kabut yang cukup tebal sempat menyelimuti Kota Bengkulu dan sekitarnya pada Rabu (20/11). Kabut ini hanya terjadi pada pagi hari dan hanya berlangsung sekitar beberapa jam saja.

Data observasi permukaan Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu menunjukkan, meski berlangsung beberapa jam, kabut ini membuat jarak pandang terbatas. Yakni hanya sekitar 100 meter saja dengan kelembaban udara 100 persen.

Data juga menunjukkan bahwa arah angin pada pukul 05.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB adalah dari barat laut hingga timur dengan kecepatan angin 1 hingga 4 knot. Keadaan jumlah awan yakni 7 oktaf (berawan tebal) dan jenis awan rendah yang tercatat adalah awan cumulus dan cumulunimbus.

Kepala BMKG Provinsi Bengkulu, Kukuh Ribudiyanto mengatakan, kabut yang terjadi pada pukul 05.50 WIB tadi pagi ini bukan disebabkan oleh asap dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

“Untuk titik api hasil pantauan pagi tadi itu nihil atau tidak ada titik api. Kalau hari sebelumnya itu hanya ada 1, yaitu disekitar Lebong,” ungkap Kukuh saat diwawancarai sedang berada di DPRD Provinsi Bengkulu, Rabu (20/11).

Kukuh menjelaskan, untuk wilayah Bengkulu saat ini mulai memasuki masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan. Hal itu ditandai terjadinya beberapa kali hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari terakhir.

Alat pendeteksi peringatan kebakaran hutan yang dimiliki BMKG Bengkulu pun saat ini menunjukkan potensi kebakaran hutan dan lahan sudah relatif rendah. Hal ini menyusul masuknya musim hujan.

“Titik apinya tidak ada apa lagi asap. Karena sumbernya tidak muncul, jadi bagaimana mau ada asap untuk wilayah Bengkulu,” papar Kukuh.

Adapun terkait cuaca dengan peralihan musim dari kemarau masuk musim hujan, maka diakui oleh Kukuh pada dua dasa rian terakhir di beberapa bagian wilayah di Bengkulu, seperti wilayah pegunungan sejak beberapa waktu lalu sudah mulai hujan.

“Sementara wilayah Bengkulu ke pantai memang mundur sampai dua dasa rian. Kondisinya di bawah normal lebih rendah dari sekarang. Seperti yang kita evaluasi di akhir Oktober dan pada awal November, itu suhu cuaca kita di bawah normal. Artinya, perkiraan musim kemaraunya mundur sampai dua dasa rian. Satu dasa rian itu kita hitung 10 hari. Kalau dua dasa rian artinya 20 hari. Dalam satu bulan itu kami di BMKG membaginya dalam tiga dasa rian untuk prediksi pantauan cuaca kita,” tutup Kukuh.(idn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *