Harga Terung dan Timun Anjlok, Senator Riri Prihatin

Daerah

Pemerintah Semestinya Dukung Petani Lokal

RBO, BENGKULU – Produksi yang melimpah dan persaingan dengan pemasok daerah lain menyebabkan harga komoditi pertanian terung ungu dan timun  mengalami penurunan drastis. Saat ini 2 komoditi ini hanya laku dikisaran harga Rp 600 per kilo ditingkat gudang.

Berdasarkan data yang diterima di gudang sayuran di Kelurahan Talang Rimbo, untuk 2 komoditi penurunanya cukup tajam. Sebelumnya dikisaran Rp 1.500 per Kilo dan kini  Rp 600 per kilo.

Anggota Komite II DPD RI, Hj. Riri Damayanti John Latief S.PSi meminta pemerintah untuk segera menanggulangi atas anjloknya harga terung dan timun tersebut. Menurutnya, anjloknya harga itu dapat merugikan petani.

“Saya minta anjloknya harga timun dan terung itu, pemerintah segera menanggulanginya dan mencari akar anjloknya harga tersebut. Jangan sampai itu terjadi pada sayuran atau bahan pokok lainnya,” ungkap Riri Damayanti kemarin (22/11).

Karena itu, Ketua Bidang Tenaga Kerja, Kesehatan, Pemuda dan Olahraga BPD HIPMI ini menyarankan pemerintah untuk mencanangkan program swasembada. Untuk hal ini, maka pemerintah harus memberikan subsidi bibit unggul dan pupuk bersubsidi sebagai langkah awal untuk mengembangkan pertanian yang ada di daerah.

“Tak hanya menjaga stabilitas harga, program swasembada juga akan menghentikan kebijakan impor yang selama ini merugikan petani,” kata Riri.

Selain itu, lembaga dan sumberdaya manusia petani harus dikembangkan sesuai dengan penyediaan sarana dan prasarana yang modern dan berkualitas. Petani harus diberikan pendidikan sehingga bisa menghasilkan pertanian yang memiliki nilai jual tinggi.

“Dengan dukungan pemerintah terhadap petani, optimalisasi pengembangan sentra pembibitan dan pengembangan pertanian, maka harga hasil pertanian tidak akan fluktuatif seperti sekarang,” pungkasnya.

Sementara, Medi (43) salah seorang pemilik gudang sayuran di Kelurahan Talang Rimbo mengatakan, ada 2 faktor yang menyebabkan harga terung dan timun turun drastic. Yakni, cukup membeludaknya produksi ditingkat lokal dan daerah lain.

“Rata rata hasil pertanian Rejang Lebong ini kan dikirim ke kota Palembang, Jambi dan Kota Bengkulu. Nah, untuk pasar Palembang yang paling banyak menyerap 2 komoditi ini juga turun karena pasokan dari Wilayah Lampung,” katanya. (idn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *