Setelah Penyu, Gurita juga Mati di Dekat PLTU

Featured Lingkungan

DPRD Cek Lokasi, Jonaidi: DLHK Agar Teliti

RBO, BENGKULU – Makin gawat! Pasca ditemukan 5 ekor penyu mati dan kemarin kembali ditemukannya 4 ekor penyu mati ditambah Kamis pagi ditemukan gurita mati tidak jauh dari lokasi pembuangan air bahang PLTU Batu Bara, Teluk Sepang Kota Bengkulu. Pihak DPRD Provinsi Bengkulu meminta Dinas Lingkungan dan Kehutanan (LHK) Provinsi untuk dapat lebih teliti melihat elemen-elemen limbah yang dihasilkan PLTU dimaksud.

“Kita minta dinas teknis (LHK Provinsi,red) agar hati-hati dalam berbicara. Karena sebelumnya menyampaikan limbah PLTU Batu Bara diduga tidak berbahaya atau berada dalam standar aman. Coba pikir, selama ini belum pernah ada salah satu hewan yang dilindungi itu mati di sana. Sekarang sejak PLTU ada justru diduga ditemukan matinya penyu,” ungkap Anggota DPRD Provinsi Bengkulu Jonaidi, ketika menyikapi kembali ditemukannya 4 ekor penyu yang mati di dekat seputaran PLTU Batu Bara 2×100 Megawatt, Bengkulu.

Selain itu dikatakan Jonaidi, dengan kejadian tersebut sepertinya memang harus dilakukan pengkajian ulang terhadap dokumen Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) PLTU Batu Bara. Apalagi sepentahuannya dalam dokumen amdal itu, ada kewajiban yang harus dilakukan pihak Tenaga Listrik Bengkulu (TLB) selaku pengelolanya, pertiga bulan misalnya ataupun perenam bulan sekali.

“Persoalan limbah PLTU itu bukan pada yang cair saja, tapi juga buangan asap yang mengepul ke atas langit perlu diperhatikan. Ini saja belum beroperasi lama, diduga sudah ada dampak yang ditimbulkan. Untuk itu kita minta juga pihak PLTU ada itikad baik dan memberikan penjelasan kepada publik terhadap apa yang sebenarnya terjadi,” kata Politisi Gerindra ini, Kamis, (5/12).

      Lebih jauh Anggota DPRD Provinsi Bengkulu dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kabupaten Seluma ini juga mempertanyakan hasil uji lab yang telah dilakukan pihak dinas teknis belum lama ini. Mengingat tidak menutup kemungkinan uji lab yang dilakukan, belum berkaitan dengan dugaan kematian penyu-penyu.

Apalagi disebutkan, banyak komponen limbah yang dihasilkan PLTU, tidak menutup kemungkinan belum dilakukan uji lab.

“Saya sarankan uji lab itu jangan hanya dilakukan oleh dinas teknis, tapi mencari referensi lain, seperti melibatkan pihak berkompeten untuk melakukan uji limbah. Bahkan jika perlu pihak Pemerintah Daerah (Pemda) melaksanakan studi banding ke daerah lain yang juga ada PLTU-nya. Dari sana akan diketahui dampak positif dan negatif yang ditimbulkan,” pungkas Jonaidi.

      Sebelumnya dari anggota Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu, H. Yurman Hamedi S.Ip, menekankan pihaknya akan turun dan melakukan sidak langsung ke lokasi yang semakin banyak biota laut mati secara beruntun dalam beberapa waktu terakhir.

 “Ini perlu dikaji lebih dalam. Kok dulu tidak seperti ini, tapi sekarang semakin banyak biota laut yang dilindungi mati di sekitar lokasi PLTU. Kita akan mencari solusi atas persoalan ini, kalau memang ada pencemaran, bagaimana caranya agar limbah itu dapat dinetralisir dan tidak membunuh biota laut yang ada disana. Menurut saya keberadaan PLTU ini penting, tapi kelangsungan hidup ekosistem biota laut disana juga sangat penting,” pungkas Yurman Hamedi. (idn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *