Serius Usut Kematian Penyu, DPRD Provinsi Bengkulu Datangi PLTU

Featured Pemda Provinsi

Sumardi: Kita Ambil  Limbah Air Bahang

RBO  >>>   BENGKULU  >>>  Banyaknya penyu dan hewan laut yang mati di sekitar PLTU Pulau Baai jadi perhatian banyak pihak. Termasuk DPRD Provinsi, BKSDA, Pecinta Lingkungan, dan media.  Buktinya, Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu Jumat (6/12) kemarin melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bengkulu yang memiliki kapasitas 2 x 100 Mega Watt (MW). Dalam kesempatan itu, Komisi III DPRD juga mengambil sampel limbah pembuangan Air Bahang PLTU batu bara tersebut untuk dilakukan uji laboratorium.

“Sidak yang kita lakukan untuk menindaklanjuti penemuan biota laut yang mati. Seperti Penyu, ikan, dan jenis lainnya di sekitar limbah pembuangan Air Bahang PLTU. Kitapun bakal mengambil sampel Air Bahang, yang nantinya kita kirim untuk dilakukan uji laboratorium guna mengetahui dan memastikan ada indikasi pencemaran atau tidak, serta kandungan zat kimianya,” ungkap Ketua Komisi III DPRD Provinsi, Drs.H. Sumardi, MM.

Menurutnya, sampel yang diambil bukan hanya Air Bahang saja, tetapi juga busa-busa di sekitar lokasi pembuangan limbah PLTU. Walaupun sebelumnya Dinas LHK Provinsi sudah menyatakan jika limbah PLTU masih diambang batas.
“Tapikan kita tidak tahu ambang batas yang mana. Makanya dalam sidak kita bisa melihat langsung, sekaligus mengambil sampel,” tegas Sumardi.

Nantinya, lanjut Sumardi, sampel yang diambil, dikirim untuk dilakukan uji laboratorium. Bisa saja nantinya dikirim ke Palembang ataupun Jakarta. “Tujuannya sebagai pembanding saja. Apa benar yang disampaikan Dinas LHK Provinsi dan PT Tenaga Listrik Bengkulu (TLB) selaku pengelola PLTU bahwa limbah tidak mencemari lingkungan,” sindir Politisi Golkar ini.

Apalagi, sambung Sumardi, penemuan biota laut yang mati itu sejak keberadaan PLTU. Karena sebelum-sebelumnya sama sekali tidak ada penemuan seperti itu.

“Dari uji laboratorium nanti, kita bisa mengetahui partikel-partikel yang sudah mengontaminasi wilayah tersebut. Karena di wilayah itu bisa saja bukan sekadar limbah PLTU, tetapi juga limbah-limbah lainnya,” katanya.

Lebih jauh dikatakannya, terkait langkah yang dilakukan, bukan berarti pihaknya anti terhadap investasi energi listrik. Tetapi yang mereka inginkan agar investasi itu bisa ramah lingkungan.
“Karena lingkungan inilah nantinya yang menjadi warisan kita pada generasi penerus. Ditambah lagi persoalan lingkungan, bukan hanya menjadi perhatian nasional saja, tapi internasional,” tutupnya. (idn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *