Ribuan Ikan Mati di Pantai Mukomuko, Ternyata Ini Penyebabnya

Featured Mukomuko

RBO, MUKOMUKO – Beberapa hari ini, sejumlah masyarakat heboh dengan kejadian banyaknya ikan mati dan terdampar di Pantai Abrasi hingga Pantai Muara Sungai Selagan. Jumlah ikan mati di Pantai Mukomuko ini ditaksir mencapai ribuan.

Ada yang menghubungkan kematian ribuan ikan ini disebabkan faktor alam. Pasalnya, kejadiannya pasca gempa bekekuatan 5,5 SR mengguncang Mukomuko pada Senin (16/12) lalu, ada pula yang menghubungkan kejadian ini dengan gunung api bawah laut yang katanya tidak jauh dari daratan Mukomuko. Beberapa dugaan tersebut ramai menjadi topik perbincangan dunia maya.

Seorang masyarakat nelayan Kelurahan Koto Jaya, Kota Mukomuko, Ibnu mengatakan, ia kurang yakin ribuan ikan mati itu disebabkan faktor alam. Sebab, katanya, kejadian serupa terus terjadi saat sedang musim ikan atau hasil tangkapan nelayan sedang melimpah.

Katanya, ribuan ikan mati dan terdampar di pantai itu, diduga hasil tangkapan nelayan yang sengaja dibuang. Ikan yang dibuang itu jenis ikan yang bernilai ekonomi rendah dan biasanya butuh pengelolaan lanjutan baru laku dijual di pasar.

“Kalau lagi musim atau lagi banyak tangkapan, biasanya ikan yang harganya murah dan butuh proses lagi baru bisa dijual, itu di buang oleh nelayan. Saya yakin ikan itu dari hasil tangkapan nelayan yang buang. Mungkin saja yang kali ini jumlahnya lebih banyak dari biasanya,” beber Ibnu kemarin.

Ditambahkannya, sudah hampir 4 bukan ini nelayan masih panen ikan Beledang atau Layur. Dan baru sekitar satu bulan belakang ini, sudah masuk musim ikan bawal. Dua jenis ikan ini, terang Ibnu, merupakan ikan dengan harga tinggi khususnya bawal.

“Untuk ikan beledang dan bawal saja, sekali melaut nelayan bisa dapat beratus-ratus kilo, mana sempat lagi mereka (nelayan) ngurus ikan lain yang harganya murah,” ujar Ibnu.

Masih keterangan Ibnu, ribuan ikan yang mati di Pantai Mukomuko yang sempat membuat heboh ini mayoritas ikan yang tidak laku dijual basah. Artinya, harus dilakukan pengeringan dulu, dijadikan ikan asin atau ikan kering baru laku di pasar. Sementara, cuaca saat ini tidak memungkinkan untuk melakukan pengeringan ikan lantaran musim hujan.

“Ini bukan kejadian pertama. Terus terjadi saat musim ikan. Saya kira penyebabnya bukan faktor alam. Apalagi dihubungkan dengan gunung api bawah laut,” pungkasnya. (sam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *