Cerita Kakek Ini, Momen Mencekam Saat Gerhana Matahari

Featured Mukomuko Sosial & Budaya

RBO, MUKOMUKO – Fenomena alam gerhana matahari cincin yang terjadi pada Kamis (26/12) kemarin, menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Mukomuko. Banyak yang mengabadikan momen langka ini menggunakan kamera ponsel dan mengunggahnya ke media sosial.

Dulu kala, fenomena gerhana matahari tidak dinikmati oleh masyarakat seperti saat ini. Ini diceritakan seorang kakek warga SP 6, Desa Kota Praja Kecamatan Air Manjuto, Husni Tamrin (56). Saat ia masih kecil dulu, orang tua akan melarang anaknya keluar rumah saat terjadi gerhana matahari.

Kata Husni, melanjutkan cerita, pintu-pintu rumah, jendela dan gorden, semuanya akan ditutup. “Bukanya senang, malah kami dulu jadinya agak mencekam. Tapikan itu kepercayaan orang tua kita dulu,” beber Kakek dua cucu ini.

Katanya lagi, dulu, orang tidak berani mengarahkan muka ke langit atau melihat gerhana secara langsung. Sebab, menurut kepercayaan masyarakat dulu, melihat gerhana secara langsung bisa membuat mata buta.

“Mungkin dulu belum ada alat atau kacamata khusus untuk melihat gerhana matahari. Kan sampai saat ini tidak disarankan melihat gerhana dengan mata telanjang,” kata Husni.

SAM/RBO: Fenomena Gerhana Matahari diburu warga Seluma

Cara orang dulu melihat gerhana matahari dengan memanfaatkan pantulan matahari dari air. Pada saat terjadi gerhana matahari, para orang tua dulu biasanya meletakan air di ember atau piring. “Mereka cuma melihat pantulan atau bayangan gerhana di air itu,” dikisahkan Husni.

Pada saat gerhana matahari cincin kemarin, Husni memperaktikkan cara orang dulu melihat gerhana matahari dengan menggunakan air. Apa yang dilakukan Husni justru menjadi tambahan hiburan bagi sejumlah warga yang menikmati fenomena gerhana matahari cincin. (sam)

BERBAGI:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.