Penyebab Kematian Puluhan Penyu Masih Misterius

Featured Lingkungan Politik

Komisi III Jadwalkan Panggil PLTU, BKSDA dan DLHK

RBO, BENGKULU – Hingga saat ini, penyebab kematian puluhan penyu. Menurut data Kanopi Bengkulu, sudah 27 penyu mati di dekat PLTU. Menurut BKSDA masih belum diketahui secara pasti penyebab kematian hewan yang dilindungi tersebut. Sebab itu, dari Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu berencana memanggil pihak PLTU, BKSDA dan DLHK.

“Sampai saat ini hasil penelitian penyebab kematian penyu itu belum disampaikan pada kita. Sebab itu dalam waktu dekat pihak terkait akan kita panggil. BKSDA, DLHK dan pihak PLTU sendiri juga akan kita panggil,” ungkap anggota Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu, Edwar Samsi S.Ip, MM, Selasa (14/1).

Sebelumnya Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu menyebut, kondisi sampel penyu yang sudah membusuk menyebabkan pihak Balai Besar Penelitian Veteliner di Bogor dan Laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB) belum bisa mengeluarkan hasil uji laboratorium dan otopsi untuk mengetahui penyebab kematian penyu.

Dokter hewan BKSDA Bengkulu, Erni Suyanti Musabine mengatakan, pihak laboratorium mengaku kesulitan melakukan pemotongan mikrokom atau pemotongan secara tipis bagian penyu untuk dilakukan pemeriksaan menggunakan mikroskop.

“Saya cukup memaklumi kalau hasil uji lab ini lama. Sampelnya ini sudah mati lebih dari 2 atau 3 hari, jadi kemungkinan lisis. Kalau untuk pemeriksaan histopat itu mungkin agak susah, tetapi kita tetap berusaha melakukannya,” kata Erni saat rapat bersama di kantor BKSDA Bengkulu.

Erni menjelaskan, sebanyak 4 sampel penyu yang dikirimkan ke 2 laboratorium itu adalah penyu yang saat ditemukan mati tidak terdapat sampah pada saluran pencernaannya. Sampel penyu yang dikirimkan ini saluran pencernaannya dalam kondisi normal.

Hal itu, kata Erni, untuk memastikan apakah kematian puluhan penyu secara mendadak di perairan Pantai Teluk Sepang, Kota Bengkulu sejak beberapa bulan terakhir ada kaitannya atau tidak dengan dugaan pencemaran limbah air bahang PLTU Bengkulu.

Dijelaskan Erni, untuk mengetahui apakah penyu yang mati ini tercemar logam berat atau tidak, pihak BKSDA Bengkulu juga mengirimkan bagian dalam perut penyu seperti saluran pencernaan, hati, ginjal dan seluruh bagian usus untuk diteliti.

Erni mengklaim, pihaknya mengirimkan bagian dalam dan perut penyu ini dalam kondisi terbungkus dan aman, sehingga tidak terjadi penguapan yang menyebabkan terkontaminasi zat kimia lain.

“Itu upaya yang sudah kita lakukan dan kita tidak bisa intervensi pihak lab. Saya tahu persis karena limbah itu banyak yang harus diperiksa. Jadi, butuh waktu. Kami masih menunggu dari pihak laboratorium. Kita sudah lakukan pembayaran dan In sya Allah bisa cepat dikirimkan,” papar Erni.

Sementara itu, Kepala BKSDA Bengkulu, Donald Hutasoit mengatakan, pihaknya tidak bisa memaksakan Balai Besar Penelitian Veteliner di Bogor dan laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk segera mengeluarkan hasil penelitian mereka terhadap sampel penyu yang dikirimkan.

Kata Donald, pengujian sampel untuk mengetahui apa penyebab kematian penyu ini bukan sesuatu hal yang mudah. Ada banyak rangkaian pemeriksaan dan penelitian yang harus dilakukan terhadap sampel yang dikirimkan.

Selain itu, sambung Donald, sebanyak 2 labotatorium tempat pengujian sampel penyu ini adalah laboratorim besar dan terpercaya di Indonesia, sehingga kemungkinan ada banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan selain menguji sampel penyu dari Bengkulu.

“Uji ini tidak mudah. Kemudian laboratorium tempat kita kirimkan ini dia menangani seluruh Indonesia. Kita sudah tanyakan, tapi tidak bisa kita paksakan harus 2 hari selesai, walaupun kita menginginkan secepatnya. Ini sudah diluar kontrol kita dan kita hanya bisa bertanya,” papar Donald.
Ketika hasil uji dari 2 laboratorium ini telah keluar, Donald berharap seluruh pihak di Bengkulu bisa menerima apa pun hasil dari uji yang dilakukan 2 laboratorium tersebut terkait dengan penyebab kematian penyu.(idn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *