Akibat Covid-19, Mesjid Terbesar di Kota Bengkulu Harus Diisolasi

Featured Kota Bengkulu Pemda Provinsi

ACHMAD FADIAN – KOTA BENGKULU

SUNGGUH ini adalah Ujian, mesjid sebagai tempat ibadah umat muslim, kebanggan warga Kota Bengkulu terlihat sepi. Tidak pernah terbayangkan mesjid yang diresmikan Presiden Soeharto itu kini sepi akibat virus Corona. Sedih mendengarnya. Mesjid terbesar di Kota Bengkulu yaitu mesjid Agung At-Taqwa yang berlokasi di jalan Anggut Atas, saat ini, masyarakat tidak diperkenangkan masuk untuk melaksanakan ibadah salat lima waktu. Virus itu bernama Covid-19 atau biasa masyarakat menyebutnya virus corona. Kalaupun masyarakat tetap nekat ingin salat disana, boleh-boleh saja, namun usai masuk ke masjid At-Taqwa ini, masyarakat harus siap-siap selama 14 hari kedepan tidak boleh pulang ke rumah dulu alias di karantina.

Sebenarnya mesjid At-Taqwa untuk aktivitasnya masih berjalan seperti biasa. Setiap waktu masih ada adzan. Sebab, puluhan jemaah tabliq masih tetap melaksanakan dakwah mereka, walaupun hanya di dalam masjid saja. Mereka ini, tidak diperkenankan meninggalkan lokasi yang sudah diisolasi oleh pemerintah, ini diakibatkan oleh dampak meninggalnya salah satu jamaah tablig dikarenakan positif Covid-19, selama 2 minggu bertempat tinggal di mesjid Agung At-Taqwa.

Miris kalau mendengarnya, ya, namanya musibah dan juga itu kuasa Ilahi dari yang maha kuasa, setiap manusia pasti akan meninggal dunia.

Saat wartawan radarbengkuluonline.com, melihat langsung lokasi yang diisolasi oleh pemerintah, yaitu mesjid At-Taqwa, tampak keadaan mesjid dalam keadaan bersih, rapi, pokoknya sedap dan indah dilihat oleh kedua mata manusia. Sebelum saya melihat kesana, saya menghampiri tiga petugas kepolisian yang berjaga-jaga di sepanjang area masjid At-Taqwa tersebut. Salah satu petugas bertanya, “Ada yang bisa dibantu dek?” kata petugas tersebut. “Mau nanya pak, di dalam mesjid apakah masih ada orangnya atau tidak?” Petugas itu kembali menjawab, ‘masih ada dek, puluhan jemaah tablig masih disana, selama 14 hari melakukan karantina disana,” ujarnya.

Setelah panjang lebar bertanya dengan petugas kepolisian yang berjaga disana, ternyata, mesjid tetap mengumandangkan adzan layaknya masjid lainnya. Hanya saja, jemaah yang salat hanya jemaah tablig yang dikarantina disana saja. Yang membuat heran, ternyata masyarakat masih banyak berlalu lalang melewati area depan masjid At-Taqwa. Saya berfikir dalam hati, kok masyarakat tidak takut ya, terhadap Covid-19 ini, padahal Provinsi Bengkulu sudah berstatus zona merah penyebaran Covid-19 di Indonesia, aneh rasanya. Tapi mau gimana lagi, namanya juga masyarakat Bengkulu, dikatakan takut mungkin takut.

Ada satu cerita unik pengamatan saya selama melihat mesjid At-Taqwa ini, pukul 15.30 WIB usai adzan Asyar berkumandang, ada salah satu jemaah di dalam sana, melambaikan tangan seperti mengajak saya salat berjamaah di dalam mesjid. Saat itu, hati saya merasa ingin masuk kesana, melihat langsung aktivitas mereka apa saja selama 14 hari dikarantina disana. Tapi, risiko terberatnya, saya tidak boleh keluar lagi dari sana, status saya berubah menjadi Orang Dalam Pengawasan (ODP) walaupun saat ini, status saya belum menikah.

Kalaupun misalkan jemaah tersebut melarikan diri dari mesjid, siap-siap saja ada petugas dari kepolisian, Satpol PP dan beberapa instansi pemerintah siap menangkap dan menjaga mereka selama 24 jam secara bergantian. Walaupun, garis police line sudah tidak ada lagi di sepanjang area mesjid At-Taqwa ini. Maka dari itu, masyarakat seharusnya bisa sadar dan mewaspada diri akan bahanya virus ini. Masyarakat tetap jaga jarak, jangan keluar dari rumah, lindungi diri, dan banyak berdoa supaya Provinsi Bengkulu terbebas dari Covid-19. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *