Tambo Marga VII Pucukan Bengkulu Selatan (2)

Bengkulu Selatan Featured

Aneh, Orang Pagaruyung Singgah Kudai di Air Manna

MARGA VII Putjukan (Pucukan-red) merupakan salah satu marga yang ada di Bengkulu Selatan. Marga ini terbentuk sejak zaman tempo dulu. Mengapa daerah ini dinamakan Marga VII Pucukan? Baca terus laporan kedua dari 13 tulisan yang dibuat wartawan RADAR BENGKULU yang juga termasuk salah seorang anggota Persatuan Wartawan Indonesia Pusat dengan nomor anggota 07.00 5706.95B berikut ini.

AZMALIAR ZAROS – Manna, Bengkulu Selatan

Pada zaman dahulu itu, ada orang dari Pagaruyung, Sumatera Barat datang ke Bengkulu, tepatnya Bengkulu Selatan. Ia datang ke daerah ini melalui jalan sepanjang pantai ini.
Mereka yang datang itu adalah Maharaja Lelo Panjang Rambut. Ia meninggalkan daerah Pagaruyung itu karena dia sedang bersedih. Ia berkelana menyusuri pantai untuk menghilangkan rasa sedih . Dan tidak tahunya, tiba-tiba ia sampai di Bengkulu Selatan.

Ia berjalan menyusuri pantai sebelah barat Pulau Sumatera, menganankan riak nan mendebur. Mengirikan batang -batang dengan bertongkatkan kemeyan barus. Rupanya, tongkat yang digunakannya itu amat sakti. Karena, tiap-tiap kuala yang beliau lewati, selalu dia pancangkan tongkat itu. Tiap ia pancangkan tongkat itu , tidak ada satu pun air yang bisa melewati atau melaluinya. Sehingga, sampailah dia di kuala Sungai Air Manna, ibukota Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu saat ini.

Namun, saat dia memancangkan tongkatnya di Kuala Air Manna, disana terjadi keanehan. Tongkat yang dipancangkannya itu tidak mempan nampaknya. Ia hanyut saat memancangkan tongkatnya tadi. Lalu ia berdiri. Ia melihat ke hulu Sungai Manna itu. Lalu, dia insyaf. Rupanya tidak semua batang air yang dapat ditaklukkan oleh kesaktian yang dia miliki selama ini.

Ia kemudian ke mudik menuruti air Manna tersebut. Kemudian dia mencari tempat yang baik dan aman untuk menetap di sana. Ia kemudian membuat dusun di dekat Air Manna tersebut.
Ia mencari daerah untuk menetap yang agak aman. Jaraknya sekitar 6 Km dari Air Manna. Kalau sekarang daerah ini namanya Sebiris .

Seputar dusun ini, ia bersihkan. Hutan yang lebat tadi ia tebangi. Lalu dia buat tempat tinggal dari bahan-bahan yang ada di alam itu. Kemudian dia membersihkan lahan dan menanam padi di sana secara gotong royong.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *