Menyingkap Tambo Suku Rejang di Provinsi Bengkulu (9)

Featured Kepahiang Lebong Rejang Lebong

Raja Tiang IV Taklukkan Rejang Sawah

SUKU Rejang sebagai salah satu suku yang mendiami ProvinsiBengkulu sejak dulu sudah mempunyai budaya yang tinggi. Mereka sudah punya huruf tersendiri yang kini masih dirawat dan dilestarikan Pemerintah daerah setempat. Untuk mengetahui kelanjutan Tambo Rejang ini, silakan baca tulisan kesembilan dari 25 tulisan yang akan diturunkan secara bersambung.

AZMALIAR  ZAROS – Kota Bengkulu

Sejak zaman dahulu pasirah di Lebong telah mengusahakan supaya mereka bekerjasama dengan jalan mengangkat satu dari mereka yang tertua dan bijaksana menjadi tuan atau raja berjalan dengan baik dalam hal adat. Sedangkan dalam hal tempat tinggal mereka tetap berkuasa sendiri di daerahnya masing-masing.

Begitu juga dalam cara memilih pasirah menurut adat Tiang IV, soal adat hingga sekarang masih tetap dipegangng kuat-kuat. Begitu juga pertalian anak negeri dengan pasirahnya , rupanya telah menjadi darah daging pada penduduk Lebong ini.

Sungguh pun perangkat pasirah tidak disahkan boleh turun temurun, tapi oleh penduduk Lebong sebagai azas masih dipegang teguh aturan memilih pasirah menurut adat Tiang IV. Yaitu seboleh-bolehnya turun temurun sekurang-kurangnya turunan dari pasirah asal yang IV dipilih menjadi pasirah. Dan jarang pula bertukar. Keadaan ini semuanya bercocokan dengan apa yang tersebut dalam memori Van Overgave L.C Westenenk.

Menurut cerita ahli tarikh di Lebong bahwa beberapa puluh tahun di Lebong berdiri Pasirah Tiang IV Lima dengan rajanya maka pasirah Tiang IV memerintah pula di Kerajaan Sungai Serut Bengkulu.

Ceritanya, semasa di balik bukit Barisan (di Loeak Lebong) duduk memerintah Pasirah Tiang IV Lima dengan rajanya, maka di Pesisir ini didiami oleh Rejang Sawah yang mana rajanya bernama Ratu Agung. Tempat kedudukannya di Bengkulu Tinggi (Masa itu masih bernama Sungai Serut). Ratu Agung ini memiliki anak 7 orang. Yaitu Tuan Ratu Tjili, Tuan Mancek Mintjoeu, Tuan Lemang Batu, Tuan Rindang Papan, Tuan Tadjoek Bembau, Tuan Anak Dalam Muaro Bangkahulu, dan Tuan Putri Gading Cempaka.

Setelah tuan raja Ratung Agung wafat, maka Anak Dalam Muaro Bangkahulu menggantikan ayahnya jadi raja disana. Semasa kerjaan Anak Dalam Muaro Bangkahulu terjadilah peperangan hebat antara anak Raja Aceh. Karena dia hendak meminang adiknya Tuan Putri Gading Cempaka tidak diperkenankan.

Singkat cerita, Rejang Sawah ini mengalami kekalahan dan anak Dalam Muara Bangkahulu serta rakyatnya yang masih ada melarikan diri ke Gunung Bungkuk. Sesudah itu Rejang Sawah berkeliaran kemana-mana dan tidak mempunyai raja lagi. Sebab menurut riwayat waktu mereka melarikan diri itu Anak Dalam Muaro Bangkahulu raib di Gunung Bungkuk.

Mendengar Bangkahulu tidak mempunyai raja lagi dan Rejang Sawah berkeliaran di Gunung Bungkuk, maka Pasirah Tiang IV Rejang bersama raja dan beberapa orang pengikutnya , termasuk hulubalangnya pergi ke Gunung Bungkuk untuk menaklukan Rejang Sawah itu. Dengan tidak perlu susah payah, maka takluklah Rejang Sawah itu kepada Pasirah Tiang IV.(bersambung)

BERBAGI:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *