Menyingkap Tambo Suku Rejang di Provinsi Bengkulu (20)

Featured Kepahiang Lebong Rejang Lebong

Kerajaan Ditimpa Musibah Besar

SUKU Rejang merupakan salah satu nama suku yang mendiami Provinsi Bengkulu. Suku ini sudah mempunyai budaya tinggi. Mereka sudah mempunyai huruf sendiri. Untuk mengetahui suku tersebut, silakan baca liputannya yang ke 20 dari 25 tulisan yang akan diturunkan secara bersambung .

AZMALIAR ZAROS – Kota Bengkulu

Tentang peristiwa bencana yang menimpa kerajaan ini, ada pula yang mengatakan bahwa Tuan Rio Tjende ini pergi menyabung di Palembang dan kembali membawa seluang bersisik emas. Yaitu kemenangannya. Waktu akan menerangkan kepada orang banyak atas kemenangan beliau itu, maka beliau mengadakan kedjai atau bimbang.

Pada waktu kedjai sedang ramai, datang Tahta Sekilan yang tergolong sakti. Ia adalah saudara Rajo Bang Bermani dari Kota Roekam untuk melihat kedjai di Teras Mambang. Tiba beliau di Balai tempat bimbang di Teras Mambang. Dilihatnya bahwa bimbang itu sangat ramai. Orang-orang terlihat tidak insaf lagi akan dirinya. Beliau kembali ke Kota Roekam dan kemudian dia katakan kepada saudaranya Rajo Marga Bermani bahwa dia bermaksud lagi akan pergi ke Teras Mambang. Lalu saudaranya Radjo Bermani Tahta Tunggal berkata, ‘’Jangan pergi ke bimbang tersebut di Teras Mambang. Orang disana sombong.’’

Amanat saudaranya itu tidak diindahkannya. Melainkan Tahta Tunggal tergolong Sakti pergi juga ke Teras Mambang. Di tengah jalan di Air Tik Teub dia tukar pakaiannya dari kulit kayu dan menyerupai orang buruk. Sesudah itu dia berjalan menuju ke Balai di Teras Mambang. Tiba di Balai, dia duduk di muka pintu balai, maka tiap-tiap orang yang lalu disana meludahi dia dan ada pula yang memukuli dia.

Setelah beberapa hari dengan hal yang demikian, maka pada satu hari ditanamnya dimuka pintu balai itu 7 lidi kelapa. Lalu,  disuruhnya orang mencabutnya. Maka, keluarlah 7 mata air. Tidak berapa lama sesudah itu dia hilang. Setelah dia hilang, maka keluarlah dari mata air yang 7 itu. Makin lama makin banyak dan turun angin dengan hujan lebat. Kilat sambung menyambung. Semua orang yang menghadiri bimbang melarikan dirinya. Tetapi dengan kodrat Allah tiada berapa lama Teras Mambang penuh dengan air seperti danau, sekalian dusun tenggelam. Orang-orang banyak mati.

Ketika Teras Mambang tenggelam, Tuan Rio Tjende, Tuan Rio Oeloeng, Tuan Rio Mambau, Tuan Rio Moeda, dan Tuan Rio Tjili mati tenggelam. Sedangkan Tuan Rio Pidjar dan Tuan Rio Bas tidak mati tenggelam. Sebab, waktu itu mereka sedang berjalan keluar tanah Lebong.

Sesudah Teras Mambang ditimpa mara bahaya alam itu, maka Tuan Rio Pidjar dan Tuan Rio Bas pulang ke dusun itu dan dia mendapati saudara-saudaranya, harta bendanya dan dusunnya tidak ada lagi. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *