Menyingkap Tambo Suku Rejang di Provinsi Bengkulu (21)

Featured Kepahiang Lebong Rejang Lebong

 

Tuan Pidjar Diangkat Jadi Raja

SUKU Rejang merupakan salah satu nama suku yang mendiami Provinsi Bengkulu. Suku ini sudah mempunyai budaya tinggi. Mereka sudah mempunyai huruf sendiri. Untuk mengetahui suku tersebut, silakan baca liputannya yang ke 21 dari 25 tulisan yang akan diturunkan secara bersambung .

AZMALIAR ZAROS – Kota Bengkulu

Melihat marabahaya yang sangat dahsyat itu, Tuan Rio Bas tidak mau tinggal ditempat itu lagi. Melainkan dia pergi ke luar Lebong. Kemudian dia mendirikan dusun di Pagar Banyu di Ulu Palik. Supaya jangan putus turunan Tuan Setio Moeara Depati di Marga Suku VIII, maka dimufakatkan oleh Tiang IV bahwa akan menjadi Radjo Suku VIII ialah Tuan Rio Pidjar.

Mula-mula ditolaknya permintaan itu. Sebab dia tidak ada mempunyai harta benda dan ahli family lagi. Rupanya Tiang IV keras juga mau mengangkat dia menjadi raja. Sedangkan dia minta supaya Tiang IV mengangkat Tuan Bagindo Penoetoek , yaitu hulubalang Tuan Rio Tjende di Dusun Semelako menjadi raja. Sebab beliau itu ada berumah dan berharta. Tetapi Tiang IV hendak menjadikan Tuan Rio Pidjar itu menjadi raja. Oleh sebab itu dirahasiakan oleh Tiang IV bahwa Baginda Penoetoek akan dipancung saat dia dinobatkan di balai kelak. Sebab waris menerima raja itu ialah Rio Pidjar.

Waktu Bagindo Penoetoek dinobatkan di balai yang mana Tiang IV hadir serta kiri kanan Baginda Penoetoek berdiri hulubalang dengan pedang tercabut. Ketika orang banyak menerangkan bahwa yang menjadi raja ialah Baginda Penoetoek, tiba-tiba disebut orang banyak ‘’Taboea’’ yang artinya pancung dan Baginda Penoetoek lalu dipancung hingga mati dan beliau disebut Depati Moengga’sarai atau rajo sehari.

Waktu dia telah dipancung, maka istrinya dikawinkan pada Rio Pidjar dan segala harta bendanya diberikan kepada Rio Pidjar serta dia diangkat oleh Tiang IV menjadi radja Suku VIII yang berkedudukan di Dusun Koetai Oesang dekat Semelako.

Adapun nama-nama Pasirah dalam Marga Suku VIII yaitu Tuan Setio Moera Depati berkedudukan di Dusun Karang Anyar. Kemudian Tuan Rio Tjende berkedudukan di daerah Dusun Teras Mambang, Tuan Rio Pidjar berkedudukan di Koetai Oesang dekat Semelako, Bagindo Karang Dapo berkedudukan di Sadai Benek, Ki Tetoeak berkedudukan di Koetai Oesang dekat Semalako, Depati Ilang di Mesigit berkedudukan di Koetai Oesang dekat Semalako, Singodepati berkedudukan di Semalako, Depati Kemalaloerah berkedudukan di Semalako, Goeroe Toea berkedudukan di Semalako, Megat Singodjojo berkedudukan di Semalako.

Berikutnya adalah Raoen Geparalam berkedudukan di Semalako, Depati Djoenan berkedudukan di Semalako, Depati Roean berkedudukan di Semalako, Depati Tjili berkedudukan di Semalako, Depati Loekis berkedudukan di Semalako, Siloetan gelar Raden Kemalaradjo berkedudukan di Semalako, Merasoen berkedudukan di Semalako, Marimoen berkedudukan di Semalako, Waras berkedudukan di Semalako, Dawat berkedudukan di Semalako, Remoesan berkedudukan di Semalako, Matoerah berkedudukan di Oedjoeng Tanjung, Saharoedin berkedudukan di Talang Leak.

Sedangkan benda pusaka yang masih ada tersimpan hingga sekarang dalam Marga Suku VIII antara lain gading di Dusun Semalako, keris sepejam di Dusun Semelako, Keris semayang mekar di Dusun Semalako, Tjikoek dari gading di dusun Semalako. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *