Menyingkap Tambo Suku Rejang di Provinsi Bengkulu (23)

Kepahiang Lebong Rejang Lebong

Marga Bermani Lebong Disatukan dengan Djurukalang

SUKU Rejang merupakan salah satu nama suku yang mendiami Provinsi Bengkulu. Suku ini sudah mempunyai budaya tinggi. Mereka sudah mempunyai huruf sendiri. Untuk mengetahui suku tersebut, silakan baca liputannya yang ke 23 dari 25 tulisan yang akan diturunkan secara bersambung

AZMALIAR ZAROS – Kota Bengkulu

Seorang dari 4 tuan Biku yang datang dari Majapahit ke tanah Rejang ialah Tuan Biku Bermano. Sebagimana kenyataannya di tembo-tembo Rejang bahwa beliau itu adalah seorang yang ternama diantara 4 tuan biku itu. Dan beliau inilah yang menjadi raja Bang Mego (Marga) Bermani Lebong berkedudukan di Kota Roekam diantara Dusun Kota Donok dan Dusun Tes.

Seperti telah diceritakan sebelumnya, bahwa beliau ini kawin dengan Tuan Poetri Singgang Poetri dari Tuan Soeloetan Rajo Megat, rajo Marga Tubai di Dusun Pelabai Margo Soekoe IX sekarang. Tuan Biku Bermano wafat di Kota Roekam yang mana diakui serta disebut oleh bangsa Rejang sebagai keramat Koeta Roekam.

Perkawinan Tuan Biku Bermano dengan Putri Singgang beroleh 2 orang anak. Seorang laki-laki bernama Tuan Tahta Toenggal dan seorang putri bernama Putri Dayang Djenggai. Ada pula yang menceritakan lain dari Tuan Tahta Toenggal dan Tuan Putri Djinggai ada seorang lagi putri Tuan biku dari istri yang lain bernama Tuan Tahta Sekilan gelar Rantai Sembilan.

Tuan Putri Dayang Djenggai kawin dengan Tuan Biku Bembo Radjo Marga Djeroekalang. Sedangkan Tuan Tahta Toenggal memperistrikan Tuan Putri Kembang dari Dusun Semalako Marga Suku VIII sekarang.

Setelah beberapa lamanya Tuan Tachta Toenggal kawin dengan Tuan Putri Lembang tidak juga mendapat anak, oleh sebab itu baginda sangat berduka. Lalu baginda pergi mendoendang atau bertapa meminta kepada Tuhan supaya dikarunai putra. Di dalam bertapa itu baginda melihat dating kepada baginda 9 ekor anak gajah dengan bermacam-macam kelakuannnya.

Kemudian dengan takdir Allah, Baginda memperoleh anak 9 orang laki-laki . Lalu putra -putra itu nama depannya ada nama gajah dan kelakuannya yang dia lihat waktu pertapaan dahulu. Yaitu Gajah Meram, Gajah Gemeram, Gajah Beniting, Gajah Biring, Gajah Rimboen, Gajah Rajo, Gajah Nipak, Gajak Pelih, Gajah Merik.

Putera yang tertua Gajah Meram mengganti ayahandanya tinggal memerintah di Kota Roekam Marga Bermani Lebong dan saudara-saudaranya yang delapan lagi pergi ke tempat -tempat lain di Luar Lebong menjadi raja dan marga-marga dimana mereka itu memerintah dinamai juga Bermani.
Gajah Gemeram pergi ke Oejan Panas di tanah Sindang onderafdeling Rejang. Gajah Beniting pergi ke Batoe Kaloeng

Marga Bermani Ilir onderafdeling Rejang. Gajah Biring pergi ke Roepoek (Moearo Soea) Marga Bintunan onderafdeling Lais. Gajah Meram, putra tertua tinggal memerintah di Kota Roekam Marga Bermani Lebong.
Beliau memperoleh 7 orang putra. Yaitu Sapau Lanang, Sapau Koembang, Sapau Dina, Sapau Bingin, Sapau Den, Sapau Nggas, Sapau Daoen.

Sapau Lanang menggantikan ayahandanya dan tinggal memerintah di Kota Roekam Marga Bermani Lebong. Maka keturunan Gajah Meram turun temurun menjadi kepala Marga Bermani Lebong hingga sampai kepada Pasirah Djakin, maka Marga Bermani Lebong disatukan dengan Marga Djoeroekalang dengan besluit Resident.
Residen Van Bencoolen 18 Februari 1991 No 69 dan sejak dari waktu itu kedua Marga itu dinamai Marga Bermani Djoeroekalang. Pemerintahan itu diserahkan kepada Tuan Pangeran Marga Bermani Djoeroekalang yang sekarang berkedudukan di Kota Donok.

Adapun nama-nama Pasirah yang memerintah di Marga Bermani antara lain Tuan Biku Bermano, Tuan Tachta Toenggal, Gadjah Meram, Sapau Lanang, Tuan Rio Roeseak, Tuan Rio Semilau, Tuan Rio Lamoedjau, Tuan Depati Pantjaberangbaja.(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *