PUASA SYAWAL ATAU PUASA QODO? MANA YANG DIDAHULUKAN?

Featured Pemda Provinsi Sosial & Budaya

Oleh H. Junaidi Hamsyah, S.Ag

A. Puasa Sunnah Syawal dan Keutamaannya
Pada umumnya ummat Islam usai melaksanakan puasa Ramadan dan setelah Idul Fitri 1 Syawal, pada tanggal 2 Syawal ada yang sudah memulai puasa kembali yakni mengerjakan puasa sunnah yang dikenal dengan nama puasa sunnah Syawal. Sesuai dengan namanya puasa sunnah. Maka hukum Ibadah puasa Syawal adalah sunah mustahab. Arti sunnah mustahab adalah sesuatu yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW sekali atau dua kali. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan: صَوْمَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ مُسْتَحَبٌّ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ
“Puasaenam hari di bulanSyawalhukumnyamustahabmenurutmayoritasparaulama” (Al-Mughni, 3/176).
Adapun dalil yang lazim disampaikan para ulama, berkenaan dengan puasa sunnah Syawal dalam Islam. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadis berikut:من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر
“Barangsiapa yang puasa Ramadan, lalumengikutinyadenganpuasaenam hari di bulanSyawal, makaiamendapatpahalapuasasetahunpenuh” (HR. Muslim no. 1164).
Puasa sunnah Syawal ini di Jawa menjadi sebuah tradisi yang diakhiri dengan lebaran ketupat. Bahkan lebih meriah dari lebaran Idul Fitri. Sehingga di Jawa dalam bulan Syawal mereka melaksanakan dua kali lebaran. Kebaran pertama 1 Syawal lebaran Idul Fitri dan kedua lebaran Ketupat pada tanggal 8 Syawal. Mengapa lebaran kedua jatuh pada tanggal 8 Syawal karena mereka mengamalkan mulai melaksanakan puasa sunnah Syawal dari tanggal 2 Syawal. Dalam pelaksanaan setiap ibadah, Islam menitikberatkan pada niat. Puasa sunnah Syawal tentu harus diawali dengan niat. Adapun niat puasa Syawal adalah.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ. Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.”

Puasa sunnah Syawal dilaksanakan selama 6 hari di bulan Syawal. Lebih utama dilakukan sehari pasca Idul Fitri, namun bila tidak bisa dimulai dari tanggal 2 Syawal tanggal berapapun boleh asal masih dalam bulan Syawal dan tidak mengapa bila dilakukan di akhir-akhir bulan Syawal.Lebih bagus bila dilakukan secara berurutan selama enam hari, jika tidak memungkin dilaksanakan berurutan selama enam hari maka tidak mengapa bila dilakukan tidak berurutan. Banyak keutamaan puasa sunnah Syawal ini. Diantara keutamaan-keutamaannya adalah ;
a. Nilai ibadahnya sama dengan puasa setahun penuh. Keutamaan ini dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Muslim nomor 1164,”Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”.

b. Menyempurnakan ibadah. Seperti ibadah salat sunnah, di mana tindakan tersebut bisa menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah salatwajib. Demkian pula puasa sunnah, khususnya puasa sunnah Syawal menyempurnakan bila mana ada kekurangan-kekurangan selama puasa bulan Ramadhan. Ibnu Rajab menjelaskan keutamaan puasa Syawal sebagai berikut:
“Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 394.)
c. Tanda diterimanya amalan puasa Ramadan. Dikatakan apabila Allah SWT menerima amalan seseorang, maka Dia akan menunjuki pada amalan selanjutnya. Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf.
مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim). Ibnu Rajab menjelaskanhal di atas dengan perkataan salaf lainnya, ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.” (Latho-if Al Ma’arif). https://rumaysho.com/1841-buah-dari-mengikuti-kebaikan-dengan-kebaikan-lainnya.html

d. Mendapatkan ganjaran berupa pahala sepuluh kali lipat. Hal ini telah dijelaskan dalam Surat Al An’am 160
مَنۡ جَآءَ بِالۡحَسَنَۃِ فَلَہٗ عَشۡرُ اَمۡثَالِہَا ۚ
Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya.Dan hadits yang berbunyi,
عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)»
Dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, beliau bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Idul Fithri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas sepuluh kebaikan semisal.” (HR. IbnuMajah no. 1715)
e. Mendapatkan pertolongan dari Rasulullah SAW. Dalam hadits riwayat At Tirmidzi menyebutkan,”siapa yang menghidupkan sunnahku maka sungguh ia mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku bersamaku di surga.”

f. Tanda peningkatan iman
B. Mana yang Lebih dahulu dikerjakan
Sering menjadi perdebatan di masyarakat tentang pelaksanaan pelaksanaan puasa sunnah Syawal ini. Ada yang mengatakan bayar dulu hutang puasa. Yakni bila ada yang tertinggal selama beberapa hari selama Ramadhan sesuai dengan syariat yang membolehkan tidak berpuasa di bulan Ramadhan misalnya karena sakit, safar ( dalam perjalanan), haid, nifas. Bayar dulu hutang puasa tertinggal tersebut baru melaksanakan puasa syawal. Ada juga pendapat, hutang puasa atau puasa qodo bisa dibayar sampai bulan Sya’ban yang akan datang sedangkan Puasa Syawal hanya dibulan Syawal. Maka mendahulukan puasa Syawal baru membayar hutang puasa atau qada. Mari kita simak satu persatu.

B. Puasa Qodo
Pendapat yang mengatakan bayar hutang puasa atau qodo terlebih dahulu baru melaksanakan puasa Syawal berdasarkan hadits. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW yang berbunyi,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ‎
Artinya:Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan, kemudian ia ikuti dengan berpuasa enam hari di bulansyawal. Ia akan mendapat pahala seperti puasa setahun penuh.” (HR Muslim).
Sebagaimana arti hadits di atas, Barangsiapa yang berpuasa Ramadan…Puasa Ramadhan wajib dilaksanakan selama sebulan. Hitungan tahun hijriyah dalam sebulan kadang 29 hari kadang 30 hari. Maka yang dimaksudkan dengan puasa sebulan adalah puasa selama 29 atau 30 hari. Sedangkan puasa Ramadhannya yang kurang dari jumlah tersebut belum bisa dikatan sebual. Untuk itu harus dicukupkan dulu berapa hari hutang puasanya sehingga genap menjadi sebulan sesuai keputusan sidang isbat selama 29 atau 30 hari. Setelah cukup sebulan maka baru laksanakan puasa Syawal.
Fatwa Imam Ibnu Utsaimin tentang wanita yang memiliki utang puasa ramadhan, sementara dia ingin puasa syawal,
إذا كان على المرأة قضاء من رمضان فإنها لا تصوم الستة أيام من شوال إلا بعد القضاء ، ذلك لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ( من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال ) ومن عليها قضاء من رمضان لم تكن صامت رمضان فلا يحصل لها ثواب الأيام الست إلا بعد أن تنتهي من القضاء
Jika seorang wanita memiliki utang puasa ramadhan, maka dia tidak boleh puasa syawal kecuali setelah selesai qadha.
Disamping itu, puasa qodo hukumnya adalah wajib sedangkan puasa Syawal hukumnya sunnah. Maka, mendahulukan yang wajib adalah lebih tepat dari pada mengerjakan yang sunnah sedangkan yang wajib masih tertinggal.
2. Puasa Syawal
Bagi yang memulai puasa Syawal sehari setelah idul fitri atau di mulai dari 2 Syawal tentu belum sempat membayar hutang puasanya. Apa rujukannya memulai puasa sunnah Syawal dari tanggal 2 Syawal. Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha mengatakan, كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ
“Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.”Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabishallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam Fathul Bari, 4/191. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya mengundurkan qodho’ Ramadhan baik mengundurkannya karena ada udzur atau pun tidak.
Pendapat yang menyatakan kesempatan untuk melaksanakan qadha puasa Ramadan adalah sampai bulan Ramadan berikutnya. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan Ahmad dari Aisyah RA yang berbunyi:”Aku tidaklah meng-qadha sesuatu pun dari apa yang wajib atasku dari bulan Ramadan, kecuali di bulan Sya’ban hingga wafatnya Rasulullah”

Pendapat ini mengungkapkan bahwa qadha wajib dilakukan sebelum masuknya Ramadan berikutnya. Hadis di atas merupakan hadis mauquf yaitu merupakan perbuatan, perkataan, dan diamnya sahabat yang dalam hal ini adalah istri Rasulullah, Aisyah RA. Dan mengutip dari  https://republika.co.id/berita/q7s19i458/penjelasan-tentang-qada-puasa-ramadhan-dan-membayar-fidyah

Orang yang memiliki kewajiban untuk melakukan qada puasa Ramadhan yang ditinggalkannya tidaklah mesti menyegerakan qada itu. Pelaksanaan qada puasa itu terserah kepada seseorang yang bersangkutan, menurut kelapangan waktu yang ia miliki selama masa-masa sebelum tibanya Ramadhan.Ketentuan ini didasarkan kepada riwayat yang shahih berasal dari Aisyah RA. Istri Rasulullah SAW itu meng-qada puasa Ramadhan pada bulan Sya’ban dan ia tidak menyegerakan meng-qada puasa tersebut, sekalipun ia sanggup untuk melakukannya.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, ”Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut sehari setelah shalat ’Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan. Karena seperti itu pun disebut menjalankan puasa enam hari Syawal setelah Ramadhan.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Kebanyakan ulama tidak memakruhkan puasa pada tanggal 2 Syawal yaitu sehari setelah Idul Fitri.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 385).
Syaikh Muhammad bin Rosyid Al Ghofiliy berkata, “Yang lebih utama adalah memulai puasa Syawal sehari setelah Idul Fithri. Ini demi kesempurnaan dan menggapai keutamaan. Hal ini supaya mendapatkan keutamaan puasa segera mungkin sebagaimana disebutkan dalam dalil sebelumnya. Namun, sah-sah saja puasa Syawal tidak dilakukan di awal-awal bulan Syawal karena menimbang mashalat yang lebih besar. https://rumaysho.com/3532-mulai-puasa-syawal-boleh-sejak-tanggal-2-syawal.html

3. Bolehkah Puasa Qodo digabungkan dengan Puasa Syawal?
Uraian di atas sudah memberi petunjuk kepada kita bahwa kedudukan puasa qodo adalah wajib sedangkan puasa Syawal hukumnya sunnah. Maka, tidak boleh digabung antara puasa qodo dengan puasa sunnah Syawal atau satu niat puasa qodo sekaligus puasa Syawal atau niat puasa Syawal sekaligus puasa dodo. Makna tekstual (tertulis) hadis tentang dalil puasa Syawal menunjukkan bahwa niat puasa Syawal dan niat qadha puasa Ramadan itu tidak digabungkan.Kebolehan menggabungkan sesuatu, para ulama menyebut menggabungkan niat dua ibadah dengan at-Tasyrik fin NiyahatauTadakhul an-Niyah.Terdapat kaidah yang diberikan para ulama dalam masalah menggabungkan niat, إذا اتحد جنس العبادتين وأحدهما مراد لذاته والآخر ليس مرادا لذاته؛ فإن العبادتين تتداخلان
“Jika ada dua ibadah yang sejenis, yang satu maqsudah li dzatiha dan satunya laisa maqsudah li dzatiha, maka dua ibadah ini memungkinkan untuk digabungkan. (‘Asyru Masail fi Shaum Sitt min Syawal, Dr. Abdul Aziz ar-Rais, hlm. 17)

Dari kaidah di atas, beberapa amal bisa digabungkan niatnya jika terpenuhi dua syarat. Pertama, amal itu jenisnya sama. Misalnya Salat dengan salat, atau puasa dengan puasa.
Kedua, ibadah yang maqsudah li dzatiha tidak boleh lebih dari satu, karena tidak boleh menggabungkan dua ibadah yang sama-sama maq sudah li dzatiha.
Niat puasa Syawal tidak boleh digabungkan dengan meng-qadha puasa Ramadan yang pernah ditinggalkan. Karena meninggalkan puasa ketika Ramadan, baik karena alasan yang dibenarkan maupun tanpa alasan, itu wajib untuk di-qadha. Hal ini disampaikan dalam firman Allah: فمن كان منكم مريضاً أو على سفر فعدة من أيام أخر

“Siapa saja di antara kalian yang sakit atau dalam perjalanan (kemudian dia berbuka) maka dia (mengganti) sebanyak hari puasa yang ditinggalkan di hari yang lain.” (Qs. Al-Baqarah:184)
Sementara, puasa enam hari Syawal itu hukumnya sunah. Oleh karena itu, hendaknya orang yang memiliki utang puasa tersebut meng-qadha utang puasa Ramadan kemudian melaksanakan puasa sunah enam hari bulan Syawal. Puasa Syawal harus dilakukan secara khusus, demikian pula qadha puasa juga harus dilakukan secara khusus.Dalam keadaan semacam ini, tidak memungkinkan untuk digabungkan niatnya, tidak sebagaimana ibadah yang lain, seperti mandi junub dan mandi Jum’at. https://www.tribunnews.com/ramadan/2019/06/07/apakah-bolehmenggabungkan-puasa-syawal-dan-bayar-utang-puasa-ramadan-berikut-penjelasannya?page=3 (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *