Syeh Moh Amin, Penyebar Islam di Manna (2)

Bengkulu Selatan Featured

 

Makamnya Terletak di Komplek Masjid Al-Manar

Di Bengkulu Selatan, ada salah satu tempat wisata bersejarah. Yaitu makam Syeh Moh Amin. Letaknya di Pasar Bawah, Kecamatan Manna. Syeh Moh Amin harum namanya di Manna, ibukota Kabupaten Bengkulu Selatan. Buktinya, walaupun dia sudah lama wafat dan di makamkan di daerah Pasar Bawah, namun namanya tetap harum dan dikenang warga Bengkulu Selatan dan sekitarnya. Orang masih banyak yang mengunjungi makamnya di Komplek Mesjid Al-Manar itu. Siapakah Syeh Moh Amin ini, baca saja bagian kedua laporannya secara bersambung yang ditulis wartawan radarbengkuluonline.com yang terdaftar sebagai anggota PWI dengan nomor 07.00.5706.95B berikut ini.

AZMALIAR ZAROS – Kota Manna

Sementara itu, salah seorang keturunan keluarga Syeh Moh Amin , yaitu Abdul Kadir Jailani mengatakan bahwa memang Syeh Muh Amin adalah orang yang menyebarkan agama Islam di daerah Manna, Bengkulu Selatan dan sekitarnya. Lokasi penyebarannya adalah di Pasar Bawah . Karena tempat tinggalnya waktu itu adalah di daerah Pasar Bawah.

Pada saat itu dia membuat musala di Pasar Bawah dengan nama Musala Al Amin. Namun karena perkembangn zaman, dan pengikutnya yang mulai banyak, maka dibangulah secara bersama-sama masjid Al-Manar. Masjid itu sampai saat ini masih digunakan warga sekitar untuk beribadah.

‘’Dia menyebarkan ilmu tasawuf kepada para jemaahnya, ‘’jelas cucu She Muh Amin yang lahir di Manna, tahun 1920 itu.

Sedangkan dia sendiri, katanya, tak pernah lihat pengajiannya. Bahkan , dia juga tak pernah belajar langsung dengan kakeknya itu. Sebab, waktu itu dia masih kecil dan tidak tahu apa-apa.Waktu itu usianya baru 10 tahun. Dia hanya sempat bertemu dengan kakeknya itu sebentar, sesudah itu dia meninggal. Kemudian kakeknya itu di makamkan di samping bangunan Mesjid Al-Manar itu.

Waktu itu, paparnya, masjid itu dibangun secara bersama-sama dengan ukuran sekitar 8X8 M dan terbuat dari papan. Bentuknya, seperti rumah panggung. Lama kelamaan bangun musala itu diubah penduduk setempat dengan bangunan permanen.

Disana dia mengajarkan ilmu agama kepada warga pada waktu siang hari. Kemudian, ada juga yang belajar pada malam hari. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *