Sebagian Guru di Kota Bengkulu Belum Ikhlas Ada Pemotongan TPG dan THR

Featured Kota Bengkulu

RBO >>>  BENGKULU >>>  Polemik pemotongan Tunjangan Profesi Guru (TPG) dan Tunjangan Hari Raya (TPG) sebesar 2,5 perse di jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota belum menemui titik terang. Pasalnya, masih ada sebagian besar guru Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak terima TPG dan THR langsung dipotong di rekening mereka masing-masing.

“Sebenarnya pemotong TPG dan THR belum mendapat persetujuan dari guru-guru. Baik itu untuk jenjang TK, SD, maupun SMP. Apalagi, selama ini tidak ada pemotongan seperti itu. Makanya, banyak guru yang tidak setuju. Pemotongan dilakukan sebelum H-2 hari raya Idul Fitri 1441 Hijriah,” ujar salah seorang guru SDN di Kota Bengkulu yang enggan disebutkan namanya pada RADAR BENGKULU kemarin.

Untuk pemotongan sebesar 2,5 persen itu, satu guru dipotong dari THR Rp 190.000, TPG Rp 250.000 lebih. Menurutnya, baru tahun ini ada pemotongan TPG dan THR. Padahal ditahun-tahun sebelumnya tidak ada. Alasan dipotong, untuk membayar zakat. Tapi guru-guru di Kota Bengkulu banyak tidak setuju langsung dipotong. “Saat kami mengecek saldo di bank, memang langsung dipotong tanpa sepengetahuan kami. Bagi guru yang tidak setuju, untuk membuat daftar nama. Nantinya akan usulkan PGRI ke anggota DPRD Kota,” terangnya.

Dari 14 guru ASN di SDN tempat dia mengajar, 11 guru yang menolak dipotong. Menurutnya, pemotongan itu dapat dikembalikan ke guru masing-masing. “Dengan adanya daftar nama yang tidak setuju, bisa dikatakan hampir semua guru tidak ikhlas. Kalaupun membayar zakat, bisa saja kami sendiri yang membayar zakat untuk keluarga, ataupun tetangga terdekat, kenapa harus dipotong langsung. Biasanya dipotong dari gaji pokok saja untuk membayar zakat, ini kok dipotong semua. Itu menjadi pertanyaan besar kenapa ada kebijakan seperti itu,” tuturnya.

Untuk itu, mewakili guru-guru yang ada di Kota Bengkulu, kalau bisa uang tersebut dikembalikan. Coba bayangkan saja, hampir ribuan guru di Kota Bengkulu tergabung dalam PGRI. Kalau satu guru saja dipotong hampir 4 ratus ribu, sudah berapa uang yang terkumpul ? “Memang ada guru yang menerima lapang dada, tapi sebagian besar menolak dipotong. Seharusnya, dikembalikan lah. PGRI juga sudah bertindak, bukan hanya diam saja,” tutupnya. (ach)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *