Lempar Batu ke Kolam untuk Melihat Gelombang

Featured Pemda Provinsi Politik

AKHIR-akhir ini muncul fenomena yang menarik terkait dengan kondisi politik di Provinsi Bengkulu. Bukan hanya munculnya nama-nama baru yang cukup mecuri perhatian publik Provinsi Bengkulu, akan tetapi munculnya nama mantan Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamuddin yang menurut sejumlah tokoh dinantikan oleh rakyat Bengkulu untuk kembali mengabdi.

Lebih menarik lagi, Nama Agusrin tersebut, disandingkan dengan beberapa nama yang sudah cukup dikenal di kancah perpolitikan Provinsi Bengkulu. Seperti Agusrin disandingkan dengan Imron Rosadi, Agusrin disandingkan dengan Izda Putra, Agusrin – disandingkan Lenny Jhon Latif.

Ketiga nama bakal calon pasangan Agusrin tersebut bukan tokoh sembarangan, namun tokoh yang memiliki kemampuan mumpuni dari sisi politik, sosial atau jaringan dan ekonomi.

Oleh: H. CHRISTOPHER/Pimred Radarbengkuluonline.com

Misalnya ada tokoh sekaliber Imron Rosadi, mantan Bupati Bengkulu Utara dua priode, dan pernah juga menjadi rival Agusrin dalam Pilgub 2005 lalu. Sekarang pun terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Bengkulu dari partai Golkar Dapil Bengkulu Utara. Bahkan Beliau ini pun salah seorang tokoh masyarakat Rejang yang sangat disegani. Jadi tidak perlu diragukan lagi, ketokohan, pengalaman dan kemampuan beliau dalam pemilu.

Selain itu, Baliho Agusrin-Imron pun bertebaran di beberapa titik di Kota Bengkulu yang cukup menjadi perhatian masyarakat yang melintas.

Lalu ada nama Izda Putra, Publik Bengkulu pun seakan tidak asing lagi dengan tokoh yang satu ini. Izda Putra adalah salah seorang putra terbaik yang dimiliki Provinsi Bengkulu, khususnya di Birokrasi. Bahkan bukan hanya di Provinsi Bengkulu saja nama beliau dikenal, namun di beberapa provinsi pun nama beliau cukup dikenal bahkan disegani.

Khususnya di Kementerian ATR/BPN dan bahkan beliau berhasil menembus karir yang cukup cemerlang hingga menduduki jabatan sebagai Inspektur Wilayah III Kemeterian ATR/BPN. Terkait dengan kemampuan, lobby dan jaringan mulai dari tingkat daerah hingga tingkat nasional pun tidak perlu diragukan lagi. Bahkan tim sukarelawan di daerah terus bergerak dengan melakukan berbagai deklarasi dan melakukan berbagai aksi sosial yang cukup menjadi perhatian publik. Nyaris sembilan kabupaten/satu kota telah dikunjungi oleh tim sukarelawan yang menamakan diri sebagai Agusrin-Izda Solution.

Setelah dua nama diatas juga ada nama Hj. Lenny Jhon Latief yang juga merupakan figur publik di Bengkulu. Mantan anggota DPRD Kota Bengkulu ini pun memiliki jaringan cukup luas khususnya dikalangan masyarakat dan perempuan Kota Bengkulu. Hal ini pun didukung pula oleh kemampuan politik dan kemampuan lobby yang cukup baik.

BalihoAgusrin – Hj. Lenny Jhon Latief ini pun bertebaran di Kota Bengkulu dan seolah pertanda tidak lama lagi akan dilaksanakan pemilihan kepala daerah.

Jika diamati sekilas dari kemunculan nama-nama tersebut, ada satu nama yakni nama matan gubernur Agusrin M Najamuddin yang selalu dipasangkan dengan nama-nama tokoh tersebut.  Hal ini menjadi menarik jika diamati dari sisi kacamata Sosiologi yakni fenomena Agusrin. Lalu masing-masing nama seolah ingin berpasangan dengan sang mantan Gubernur tersebut.

Padahal publik Bengkulu secara umum tahu mantan Gubernur Bengkulu ini pernah bermasalah dengan hukum dan menjadi pesakitan serta pernah pula menjalani hukuman sebagai terpindana kasus korupsi.

Tetapi mengapa para tokoh tersebut seolah berlomba-lomba untuk menjadi pasangan beliau pada pilkada 9 Desember 2020 ini.

Fenomena kemunculan nama Agusrin dengan sejumlah nama bakal calon pasangan tersebut menjadi perbincangan hangat di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kalangan awam hingga kalangan terpelajar. Banyak hal yang mereka perbincangkan dengan berbagai praduga dan kemampuan analisis masing-masing.

Mantan Dekan Fisip Unib yang juga pengamat politik di Provinsi Bengkulu, DR. Panji Suminar, MA mengatakan fenomena diatas adalah hal yang biasa dalam politik. “Dalam ilmu Politik, ada istilah ” Throwing a Stone into the Pool to See the Waves” artinya Lempar batu ke kolam untuk melihat ombak. Itu adalah teknik untuk menguji penerimaan seseorang. Kalau gelombang atau ombaknya besar artinya dia bisa menindaklanjuti dengan langkah politis berikutnya, sedangkan, bila gelombang atau ombaknya kecil, artinya teknik seperti itu tidak berdampak. Nah cara – cara seperti ini kerap dilakukan oleh para politisi untuk melihat penerimaan publik terhadap dirinya,” jelas dia.

Hanya saja untuk membuktikan gelombang atau ombak tersebut berpengaruh atau tidak, harus dilakukan survei. “Pembuktian berhasil atau tidak pola yang dilakukan ini harus dilakukan dengan survei,” singkat Panji.

Sedangkan bila dilihat dari kacamata Sosiologis, untuk menggambar fenomena ini bisa saja di dekati dan dianalisa dengan Teori Interaksionalisme Simbolik untuk menjelaskan dan menggambarkan fenomena diatas. “Pendekatan dari teori interaksione Simbolik bisa digunakan untuk membaca makna dari simbol-simbol yang disampaikan ke publik, dengan menggunakan baliho sebagai medianya cukup efektif atau tidak masih butuh kajian yang mendalam dan hanya bisa diketahui dengan survei, signifikan atau tidak hasilnya,” singkat dia.

Sementara itu, Dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Bengkulu (Unib), yang juga peneliti Kebijakan Publik Pada Lembaga Rafflesia Riset Parameter (RRP), DR. Alfarabi, MA mengatakan pola yang dibangun oleh Agusrin bersama timnya tersebut adalah tentang “Restore memory old brand” artinya pendukung dan loyalis Agusrin sedang mencoba mengembalikan memory atau ingatan masyarakat Bengkulu pada dirinya sebagai pemimpin Bengkulu di masa lalu.

“Hal ini dilakukan karena tim Agusrin merasa yakin bahwa loyalisnya dan pendukungnya masih kuat di akar rumput, dibuktikan dengan banyaknya tokoh-tokoh Bengkulu yakin jika dipasangkan dengan Agusrin,” kata dia.

Mengenai kekhawatiran masyarakat tentang masalah hukum yang pernah membelit Agusrin dijawab dengan berbagai tokoh yang dianggap bersedia menjadi pasangan Agusrin di baliho.  “Para tokoh Bengkulu dianggap sudah menerima dan mengharapkan Agusrin memimpin kembali, maka tim Agusrin berharap dampaknya pada masyarakat yang masih ragu berubah dan yakin dan akan menerima Agusrin kembali,” jelas dia.

Hanya saja untuk memastikan apakah “Restore memory pada old brand” berhasil atau tidak harus dengan survei untuk menjawabnya.

Baik DR. Panji Suminar dengan Throwing a Stone into the Pool to See the Waves (Lempar batu ke kolam untuk melihat gelombang), dan DR Alfarabi dengan “Restore memory old brand” (Mengembalikan ingatan pada merk lama) yang dianggap berhasil memimpin Bengkulu. Para ahli ini sama-sama menekankan pada aspek survei untuk menjawab kemungkinan-kemungkinan yang diharapkan dengan pola yang dimainkan. “Ajang pembuktiannya adalah survei,”(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *