Ini Keluh Kesah Lembaga PAUD Selama Pandemi Covid-19

Featured Pendidikan

Penurunan Jumlah Murid, Guru PHK, PAUD Tutup Sementara

RBO >>>  BENGKULU >>>  Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kota Bengkulu, Yulita Suprihati, S.Pd menceritakan keluh kesah yang dialami lembaga PAUD yang ada di Kota Bengkulu ditengah pandemi Covid-19. Mulai dari penurunan jumlah murid baru, guru, termasuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dan lain-lain.

“Berbagai persoalan ditengah pandemi Covid-19 ini, merupakan masa paling berat di dunia pendidikan. Terlebih lagi bagi lembaga PAUD. Kenapa seperti itu? Karena mestinya anak-anak bertemu dengan teman sebayanya, bertemu dengan dewan guru di sekolah dan lain-lain, tapi nyatanya sekarang anak-anak diharuskan Belajar Dari Rumah (BDR). Banyak orangtua yang mengeluh, karena semakin banyak pengeluaran. Termasuk kuota internet. Belum lagi jika orangtua memiliki anak lebih dari 1 orang yang di sekolah, maka pengeluaran akan terasa lebih berat lagi. Oleh karena itu, beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 24 sampai 25 Juli 2020, Himpaudi Provinsi Bengkulu bekerjasama dengan BP PAUD dan DIKMAS Bengkulu serta didukung oleh Pengurus Pusat Himpaudi, mengadakan Workshop Guru Kreatif (WGK) secara daring yang diikuti oleh 800 orang pendidik PAUD se-Provinsi Bengkulu. Maksud dan tujuannya workshop ini adalah, memberikan bekal kepada dewan guru dalam menghadapi BDR tersebut. Supaya, ilmu yang disampaikan tidak membebani orangtua. Implementasi di lapangan, akan kami pantau setiap lembaga melalui PC Himpaudi,” ujar Yulita pada RADAR BENGKULU kemarin.

Apalagi, lanjutnya, ditahun ajaran baru 2020-2021, banyak lembaga PAUD yang kekurangan murid baru yang mendaftar. Bahkan tidak dapat murid sama sekali. Hal ini disinyalir, orangtua enggan mendaftarkan anaknya sekolah. Sebab, belajar sendiri di rumah. Bukan di sekolah. “Memang kondisi saat ini, kasihan dan sangat memprihatinkan. Sementara lembaga tidak mungkin mengurangi tenaga pendidik yang sudah mengabdi. Tapi untuk memberikan gaji/ honor pun tidak mungkin, kalau cuma mengandalkan dari dari dana Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP),” terangnya.

Maka dari itu, supaya lembaga PAUD tetap eksis ditengah pandemi Covid-19, menurutnya, masing-masing lembaga ada trik khusus untuk menghadapi pandemi ini. Tentunya, setiap kepala sekolah sudah ada caranya tersendiri. Tapi secara umum, tentunya harus ada pertemuan dulu diawal dengan pihak sekolah. Jadi, tidak cuma anak saja yang orientasi, tapi orangtua pun harus ada orientasinya. “Semua informasi tentang BDR itulah yang harus disampaikan ke orangtua. Kemudian, orangtua juga harus disampaikan secara riil. Misalnya bentuk pembelajarannya seperti apa yang efektif, sehingga tidak bingung jika harus menemani anak belajar di rumah,” tuturnya.

Selain itu, akibat pandemi Covid-19 ini, ada sebagian guru PAUD yang harus dirumahkan sementara waktu. Contohnya, di Kecamatan Kampung Melayu, termasuk ada meski tidak banyak, dewan guru yang terpaksa alih profesi, karena lembaga tidak sanggup membayar gaji/honor gurunya. Di kecamatan lain pun juga ada, dewan guru yang beralih profesi menjadi reseller makanan online. “Kami tidak bisa berbuat banyak, kecuali mengusulkan untuk menerima bantuan dari Pengurus Pusat Himpaudi,” ungkapnya.

Menurutnya, dana BOP itu bukan diperuntukkan untuk membayar gaji / honor guru, tapi boleh digunakan untuk mengganti transpor guru dan pembelian kuota internet yang jumlah penggunaannya pun hanya 50% dari uang yang diterima oleh lembaga. Sedangkan sisanya, untuk pengadaan perlengkapan kesehatan. Seperti, faceshil, handsanitizer, disinfektan, tempat cuci tangan dan lain-lain yang berkenaan dengan alat kebersihan lainnya. Jadi tidak mungkin, kalau gaji guru dibayar dari dana BOP.

“Sudah banyak para kepala sekolah yang bercerita, kalau mereka membayar gaji guru setengah dari gaji yang diterima setiap bulan dimasa normal. Tapi, ada juga kembaga yang manajemennya baik, sehingga punya uang simpanan dana untuk menanggulangi hal-hal tidak terduga seperti sekarang,” katanya.

Diakuinya, memang ada sebagian PAUD untuk sementara waktu tutup karena pandemi Covid-19. Kalau tutup total tidak ada. Sebab izin operasional masih aktif. Jadi, sayang kalau mereka tutup dan tidak beroperasi lagi. “Lembaga PAUD yang tutup sementara ada beberapa, karena tidak anak jadi tidak ada kegiatan di sekolah. Pesan kami untuk tenaga pendidik PAUD yang ada di Kota Bengkulu, tetap jaga kesehatan, tetap semangat belajar dan menggali ilmu, bersabar dan yakinlah badai pasti berlalu. In sya Allah, kita semua kuat menghadapi cobaan ini dan bila waktunya tiba semua akan kembali seperti sedia kala,” tutupnya. (ach)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *