Mbah Girin: Ide Mengalir Deras dalam Keringnya Irigasi Air Manjunto

Featured Mukomuko

RBO >>> MUKOMUKO >>>  Pengeringan Irigasi Air Manjunto sayap kiri hingga saat ini masih berlangsung. Jadwalnya, irigasi sayap kiri baru akan dibuka pada Maret mendatang. Puluhan hektar sawah di Desa Kota Praja, Kecamatan Air Manjuto saat ini kondisinya kering lantaran areal persawahan tersebut sangat mengandalkan irigasi untuk pengairan. Mayoritas sawah di areal persawahan Kota Praja saat ini tidak digarap. Dibiarkan kering dan tumbuh rerumputan.

Namun, tidak demikian dengan lahan milik Mbah Girin. Warga Desa Kota Praja ini tidak membiarkan sawahnya terbengkalai tak tergarap, meski air berhenti mengalir sementara waktu. Ia tetap menjaga produktivitas lahan dengan menanam tanaman lain. “Yang penting gak nganggur mas. Walau bukan padi, tetap kita garap,” kata Mbah Girin saat dijumpai radarbengkuluonline.com di ladangnya tadi siang.

Dipantau di lokasi, lelaki yang sudah tidak muda lagi ini menanam sedikit melon dan juga cabe merah. Walau tidak semua lahan berukuran 3/4 hektar itu digarap, tapi setidaknya lahan bekas kebun kelapa sawit ini bisa tetap menghasilkan.

“Kalau melon ini uji coba dulu. Belum pernah soalnya. Ini paling berapa ratus batang. Sudah banyak yang mati, diserang ulat. Tapi gak apa-apa. Anggap hiburan,” ujarnya tersenyum sembari jemarinya menyisiri batang melon memburu ulat berwarna hijau yang menyerang melonnya.

“Kalau fokusnya, ya cabe merah ini. Adalah baru sekitar 2.000 an batang. Kalau lahan mau ditanam semua, gak kegarap mas,” ucap Mbah.

Bagi Mbah Girin, waktu pengeringan irigasi ini bukan lah hal yang mengagetkan. Katanya, pengeringan irigasi merupakan rutinitas tahunan bagi lahan persawahan yang menggantungkan air dari bendungan Manjunto. Oleh sebab itu, sejak diberitahu jadwal pengeringan, ia sudah mempersiapkan diri, akan menggarap lahannya dengan jenis tanaman lahan kering.

“Pengeringan inikan tiap tahun. Jadwalnya kan dikasih tahu. Harus siap-siap kita,” tutup Sesepuh Transmigrasi SP6 Kota Praja ini.

Salah satu persiapan Mbah Girin untuk menggarap lahannya tanpa aliran irigasi yakni, ia telah membuat kolam sekitar 1,5 x 5 meter di bagian lahan rawa. Air kolam yang tak pernah kering itu dimanfaatkan sebagai cadangan air untuk menyiram tanaman.

“Kebetulan lahan saya ada rawanya sedikit. Jadi kemarin saya buat kolam dulu, bisa memelihara ikan. Tapi yang penting itu untuk nyiram tanaman,” ceritanya mengulas persiapan menghadapi jadwal pengeringan.

Mbah Girin berharap bisa kembali mengulang kesuksesannya pada musim pengeringan beberapa tahun lalu. Ia menceritakan, pada musim pengeringan sebelumnya, ia juga menggarap sawahnya menjadi ladang cabe dan semangka.

“Kalau sebelumnya Alhamdulillah mas, cabe saya lebat, pas pula harganya mahal. Saya dapat harga Rp 50.000 sekilonya. Belum lagi semangka kemarin. Mudah-mudahan lah kali ini bisa kayak kemarin,” demikian Mbah Girin mengisahkan. (sam)

BERBAGI:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.