Membanggakan, M. Arif Rahman Hakim Raih Ph.D di Usia 30 Tahun

Featured Pendidikan

Doktor Muda Punya IAIN Bengkulu

RBO, BENGKULU – M. Arif Rahman Hakim, Dosen di Program Studi Tadris Bahasa Inggris di IAIN Bengkulu berhasil meraih gelar Philosophy of Doctor (Ph.D) dari Universiti Sains Malaysia pada Selasa, 19 Januari 2021. Arif berhasil meraih gelar ini setelah berhasil mempertahankan disertasinya didepan 7 orang Professor yang bertindak sebagai penguji melalui webex teleconference selama tiga jam. Di usia yang baru genap 30 tahun, ia berhasil menamatkan studi doktoralnya yang telah dimulai sejak tahun 2017 di Malaysia.

Arif, yang lahir di Bengkulu, 15 Desember 1990, berkeinginan melanjutkan studi doktoralnya di Universiti Sains Malaysia sejak tamat dari program magister di Universitas Islam Malang pada tahun 2014, namun dikarenakan sebelum melanjutkan program Ph.D di bidang pendidikan, ia disarankan untuk mendapatkan pengalaman dibidang pengajaran dan penelitian, sehingga ia baru benar-benar terdaftar sebagai mahasiswa pada tahun 2017.

“Target awalnya memang ingin lanjut S-3 di luar negeri. Jadi, setelah lulus dari Unisma pada tahun 2014, saya langsung mendaftarkan diri untuk melanjutkan program doktoral, tapi ternyata saya disarankan oleh professor disana untuk memiliki pengalaman dulu selama 3 tahun dulu, setelahnya baru bisa mendaftar,” kata Arif saat dihubungi tim humas IAIN Bengkulu setelah prosesi penganugerahan gelarnya, Selasa (19/1/2021).

Ayah dari dari dua orang anak ini mengisahkan, topik disertasi doktoralnya adalah sebuah penelitian mengenai pengembangan modul pengajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan konten budaya lokal Indonesia. Secara mendalam ia meneliti dan mencari tahu interaksi dan dampak dari modul pengajaran tersebut bagi para pelajar Indonesia. Pada tahun 2019 di tengah akan menyelesaikan disertasi doktoralnya, Institut Pascasarjana Universiti Sains Malaysia menyanggupi untuk membiayai proses penelitiannya. Saat menempuh program doktoral, ia mengambil program studi Tesol (Teaching English to Speakers of Other Languages) di School of Educational Studies. Arif mengisahkan ketertarikan untuk mendalami keilmuan pendidikan Bahasa Inggris timbul sejak ia dinyatakan tidak lulus Ujian Nasional di mata pelajaran Bahasa Inggris ditahun pada tingkatan Madrasah Tsanawiyah (SMP). Sehingga hal tersebut membuatnya terobsesi dengan dunia riset akademik dibidang pendidikan Bahasa Inggris.

Selain menjalankan aktivitasnya sebagai mahasiswa doktoral selama 3,5 tahun di Universiti Sains Malaysia, Arif juga dikenal aktif sebagai pengurus beberapa organisasi intra maupun extra kampus seperti Perhimpunan Pelajar Indonesia, Postgraduate Students Association, USM International student Ambassador, Permai Penang, PCI Nahdlatul Ulama Malaysia dan GP Ansor Malaysia. Bersama Lembaga Permai Penang, ia juga berhasil mendirikan sebuah lembaga pendidikan non formal yang fokus pada pembelajaran Bahasa Inggris bagi para pekerja asal Indonesia yang berada di Penang Malaysia yang bernama English Academy Bengkulu Malaysia.

Tidak hanya itu, Arif juga tercatat telah dua kali mendapatkan penghargaan selama melaksanakan perkuliahan di Universiti Sains Malaysia, yang pertama adalah penghargaan terkait bidang riset dan publikasi terindeks Scopus & ESCI yang diserahkan langsung oleh wakil rektor dan dekan Universiti Sains Malaysia pada tahun 2018 dan yang kedua adalah rekognisi dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) USM untuk capaian 30 publikasi ilmiah yang ia terbitkan selama menjadi mahasiswa doktoral di Universiti Sains Malaysia.

Arif mengatakan bahwa ia merasa sangat berutung dikelilingi orang-orang yang baik sehingga proses studinya berjalan lancar. Rencana selanjutnya dalam waktu dekat, Arif mengatakan akan segera kembali ke kampus IAIN Bengkulu dan akan aktif kembali menjadi dosen dan lebih fokus pada kegiatan yang bersifat riset ilmiah serta pengabdian masyarakat di bidang pendidikan. Dengan kapasitas yang ia miliki saat ini dan di waktu yang akan datang, ia beharap dapat memberikan banyak gagasan kepada masyarakat Indonesia secara lebih luas lagi.

“Sebenarnya ambisi saya adalah bukan pada gelarnya, namun lebih pada kebergunaan ilmu yang saya miliki untuk orang banyak,” kata Arif.

BERBAGI:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.